Santri Mualaf, Betah di Pondok Demi Berkah

Layaknya pesantren pada umumnya, untuk bisa bertemu lawan jenis teramat susah, kecuali ada hajat yang darurat. Tak ayal satu bulan kemudian saya dan Sindhu baru bisa jumpa di momen rapat lagi.

Seperti pertemuan pertama, dia menghadap saya masih dengan air mata yang teramat deras. Entah sedalam apa dia merasakan problema dengan ibunya ini. “Alhamdulillah kak, aku sudah menceritakan argumen kakak ke ibu, ibu masih mengizinkan saya mondok setahun lagi kak,” terangnya tanpa aku tanyai terlebih dahulu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Oh iya kak, mengenai barokah itu, sejujurnya saya tidak terlalu percaya sebelum mengalami sendiri, tapi itu terasa di ibu, kak. Ibu lebih halus perilakunya. Nah ibu kan habis sakit terus koma, terus ibu bilang habis lihat neraka, terus ibu sembuh langsung umrah juga jadi rajin salat, kak. Itu yang terjadi pada ibu.”

Jelasnnya dengan lugas, nampaknya air mata yang ini sekarang adalah air mata bagahia, berbeda dengan pertemuan pertama.

Kemudian dia cerita lagi mengenai ilmu yang tidak berkah. “Kakak kelas di sini boyong tanpa pamit, lalu daftar polisi gagal, lalu sowan balik pondok nerusin setahun lagi dan sekarang jadi TNI kak.”

Kisahnya, saya turut bahagia karena dia masih awam-seawamnya tentang Islam, kemudian mengarungi Islam langsung ke titik paling dalam dan fundamental. Perjalanan spiritual keimanan Sindhu ini patut dijadikan contoh. Dia bercerita ke saya, selain percaya dengan berkah, perubahan signifikan yang dia alami setelah mondok adalah percaya Tuhan itu memang satu, menikmati Islam tidak kaku, dan hidup lebih sabar serta tidak memikirkan dunia saja.

Semenjak boyong dari Al-Mahrusiyah, saya bertemu Sindhu lagi saat momen haul KH Imam Yahya Mahrus pada September silam. Lagi-lagi dia menangis, speechles tatkala bertemu saya yang berwajah agraris nyaris mistis ini, padahal dia sedang jaga stand bazarnya media di tengah keramaian pelanggan. Pertemuan singkat kala itu tidak terjadi apa-apa selain pertumpahan air mata dan saya memastikan dia masih mondok. Bila sesuai perjanjian dengan orang tuanya, harusnya dia sudah boyong. Tapi tidak tahu, semoga dengan the miracle of barokah dia dengan izin ibunya tetap mondok di Al-Mahrusiyah sampai tamat madrasah. Wallohu a’lam.

Tinggalkan Balasan