Pesantren telah memberi banyak hal yang sering dilupakan sejarah. Dari seruan jihad Kiai Hasyim Asy’ari hingga pengorbanan para santri mempertahankan kemerdekaan. Dari pendidikan moral di pelosok hingga lahirnya ulama yang menjaga keseimbangan antara agama dan negara.
Ketika bangsa kehilangan arah moral, pesantren tetap menyalakan pelita, sederhana, tapi tak padam. Menyerang pesantren berarti menyerang fondasi kultural bangsa sendiri. Namun pesantren juga harus berani berubah: bukan dengan meninggalkan tradisi, tetapi memodernkan pengelolaan, memperkuat riset, membuka diri terhadap teknologi, dan tetap memegang prinsip tawassuth, moderasi dalam berpikir, keteguhan dalam nilai.

Momentum Hari Santri
Tiap 22 Oktober 2025, bangsa ini kembali memperingati Hari Santri. Namun peringatan sejati bukanlah parade sarung dan pidato simbolik. Hari Santri mestinya menjadi cermin bagi pesantren untuk melihat luka-luka yang perlu disembuhkan: keterbatasan fasilitas, lemahnya sistem keamanan, hingga masih adanya relasi kuasa yang belum seimbang.
Karena pesantren sejati adalah tempat di mana tauhid diwujudkan dalam kehidupan sosial: tiada yang lebih tinggi kecuali karena takwa, dan tiada otoritas selain kebenaran. Seperti kata Ali bin Abi Thalib, “Aku adalah hamba bagi orang yang mengajarku satu huruf.” Sebuah pernyataan kerendahan hati yang justru membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia.
Santri adalah penjaga nilai itu. Ia bukan makhluk masa lalu, melainkan jantung masa depan. Selama masih ada santri yang berpikir, mengajar, menulis, dan mencintai bangsanya, pesantren tak akan pernah runtuh.
