Runtuhnya bangunan Al-Khoziny adalah duka mendalam. Tapi menyamakan duka dengan kebodohan adalah kezaliman intelektual. Investigasi awal menunjukkan adanya kegagalan konstruksi dan kelalaian teknis, masalah sipil, bukan spiritual. Namun di ruang komentar media sosial, tragedi itu berubah menjadi peluru penghinaan. Pesantren dituding sarang feodalisme dan kebodohan.
Media pun, alih-alih mendinginkan suasana, justru menambah bara. Tayangan Xpose Uncensored di Trans7 misalnya, menggambarkan kehidupan pesantren dengan framing kasar: santri jongkok, kiai kaya raya, amplop dijadikan simbol ketimpangan. Narasi seperti ini berbahaya karena mengaburkan batas antara kritik sosial dan penghinaan kultural. Kritik boleh, tapi harus paham konteks. Tradisi penghormatan kepada kiai bukan feodalisme, melainkan ekspresi spiritualitas dan etika yang membentuk karakter bangsa selama berabad-abad.

Otokritik
Namun sebagai santri, saya tak ingin jatuh pada glorifikasi buta. Pesantren memang berjasa besar bagi republik, tapi bukan berarti tanpa cela. Banyak pesantren abai terhadap standar keselamatan bangunan, lemah dalam manajemen, dan kadang terjebak dalam kultus personal terhadap figur kiai.
Cinta sejati kepada pesantren bukan dengan menutup mata, tetapi dengan berani memperbaikinya. Santri harus menuntut akuntabilitas, transparansi, dan menempatkan keselamatan sebagai bagian dari amanah ilmu. Negara juga tidak boleh lepas tangan. Pesantren adalah bagian dari sistem pendidikan nasional, bukan entitas pinggiran yang hanya diingat saat kampanye.
Menolak Framing
