BI sudah meluncurkan Sharia Investment Account, digitalisasi pesantren, hingga kurikulum ekonomi syariah. Pemerintah bikin pilot project dan pelatihan. Kemenag memetakan 100 pesantren ekonomi unggulan.
Tapi hati-hati: sering kali, yang dibantu duluan bukan yang butuh, tapi yang paling keras teriak. Maka langkah Kemenag yang hanya membina yang siap – itu langkah berani.

Dan diam-diam, hasilnya mulai terasa.
Sekitar 85 persen pesantren kini punya unit usaha. Pendapatan mereka naik 30–40 persen. Literasi keuangan syariah pelan-pelan naik. Dari 8 jadi 15–20 persen. Mungkin kecil di Excel. Tapi besar di dusun.
Hambatan
Tapi jalan masih panjang. Ada tiga batu besar: SDM, sinyal, dan mindset.
Batu pertama: SDM. Banyak pengasuh pesantren hebat mengajar, tapi tak bisa buka email. Pengurus koperasi cuma dua orang: merangkap guru, satpam, sekaligus bendahara. Buku kas? Kadang hilang. Kadang dibawa pulang anaknya buat PR Matematika.
Kedua: sinyal. Di era 5G, banyak pesantren masih hidup di era 2G. Seminar Zoom? Buffering. Update aplikasi? Harus turun ke kota. APJII bilang internet desa hanya 40 persen. Lalu kita heran kenapa mereka belum digital?
Ketiga, dan yang paling sulit: mindset.
