Santri Rahmatan lil Alamin di Era 4.0

Dakwah yang dilakukan dengan metode tidak sesuai dengan al-Quran dan al-Hadits, seperti merujuk pada kekerasan, pemaksaan, atau melanggar nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan akan menghilangkan esensi kemuliaannya. Jangan biarkan media sosial dikuasai oleh orang-orang yang tidak berkompeten dan tidak mengamalkan ajaran Islam rahmatan lil alamin. Hal tersebut akan merusak citra Islam, memecah belah umat, memunculkan radikalisme, dan terorisme.

Pola Pikir Santri 4.0

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagai santri era revolusi industri 4,0, harus memiliki pola pikir 4C (critical tinking, creativity, comunication, and colaboration). Dalam bahasa Indonesia 4C dapat diartikan kritis  dalam berpikir, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Beripikir kritis diperlukan santri untuk menyikapi fenomena dakwah yang tidak mencerminkan Islam rahmatan lil alamin di media sosial, seperti youtube dan sebagainya. Berpikir kritis juga diperlukan untuk mencari solusi terbaik cara santri ikut berperan untuk mewujudkan Islam rahmatan lil alamin di masyarakat.

Kreativitas santri harus dilatih sejak di pondok pesantren. Pelatihan kreativitas siswa bisa dengan cara berlatih membuat konten-konten kreatif mengenai fenomena permasalahan yang ada di media sosial. Konten-konten tersebut bisa berupa artikel, karya ilmiah, atau pun karya fiksi yang berupa karikatur, cerpen, komik pendek, dan sebagainya. Dengan pelatihan tersebut diharapkan akan membantu membimbing masyarakat yang terpengaruh oleh dakwah yang tidak baik dan benar.  Selain itu, konten fiksi akan menghibur masyarakat yang sesuai dengan ajaran Islam.

Kompetensi komunikasi (komunikatif) sangat diperlukan dalam kehidupan di masyarakat. Perkataan seorang santri itu merupakan cerminan karakter dan penguasaan ilmu. Kelak dalam kehidupan masyarakat di era 4.0, komunikasi adalah hal yang paling dibutuhkan. Katakanlah walaupun seseorang memiliki kompetensi baik, tetapi jika orang itu tidak pernah mengomunikasikan pastilah tidak akan diketahui orang. Dalam berkomunikasi, santri perlu menguasi dua hal, yaitu berpikir kritis terhadap peramasalahan dan karakter baik atau akhlakul karimah. Penyajian permasalahan yang ada dalam masyarakat atau media sosial dalam forum diskusi di pondok akan meningkatkan kompetensi komunikasi. Santri yang bercita-cita menjadi dai sangat memerlukan kompetensi ini.

Selain ketiga kompetnesi tersebut, santri harus mampu berkolaborasi dengan semua pihak. Dengan kolaborasi atau kerja sama bersama teman-teman yang seide maka santri akan mudah menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat. Dalam berkehidupan di masyarakat, akan dijumpai berbagai permasalahan. Permasalahan tersebut akan mudah diselesaikan jika santri berkolaborasi dengan masyarakat. Pihak yang beseberangan pun harus diajak bekerja sama agar perbedaan pendapat yang ada tidak menimbulkan perpecahan dalam masyarakat tetapi akan menumbuhkan sikap toleransi dan menambah wawasan dalam berpikir.

Pembelajaran di madrasah yang ada di pesantren juga perlu membekali siswa dengan kompetensi teknologi komunikasi. Dengan pembekalan tersebut, santri akan bisa mengkaji konten yang bersifat merusak citra Islam, memecah belah umat, memunculkan radikalisme, dan terorisme yang ada di media daring. Hal tersebut pasti akan berdampak signifikan karena jumlah santri di Indonesia lebih domiman. Selain itu masyarakat awam cenderung lebih percaya terhadap alumni pesantren dibandingkan dengan ustadz yang tidak pernah menuntut ilmu di pesantren atau sekadar konten media daring. Tetapi jika tidak ada pengkajian oleh para santri/ulama, lama kelamaan pasti akan memengaruhi pola berpikir masyarakat.

Memang peran santri dibutuhkan untuk mewujudkan Islam ramatan lil alamin di era revolusi industri 4.0. Peran santri itu akan lebih optimal jika santri berpola pikir 4C, menguasai teknologi, dan berakhlakul karimah.

Tinggalkan Balasan