Sapi Karapan

“Iya dengar, saya kemarin menonton langsung, wooaaah… Cepatnya memang tak kalah sama ghuntor,” sahut salah satu pembeli dengan sepuntung rokok di tangan kanan beserta piring sisa rujak di depannya.

“Larinya seperti tak menyentuh tanah. Benar-benar cepat, bahkan lawannya tak berkutik ketika mereka bertanding,” sambung pria berjanggut dengan raut muka takjub.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Iya loh rek, mata saya sampai dibuat melek-merem tak jelas karena disambar anginnya yang kencang, benar-benar sakti rek,” lanjut pembeli lain yang membuat gelak tawa di warung menjadi pecah.

“Tapi… menurut saya dia pakai bantuan orang pintar atau semacamnya,” salah satu orang menghentikan tawa yang riuh

“Hah?!”

“Iya dia menggunakan cara kotor, tak mungkin ada sapi yang cepatnya menyamai ghuntor, kan?”

“Tidak, sih, soalnya saya sudah kenal betul dia itu orangnya seperti apa, anaknya saja ia biayai untuk mondok,” sanggah salah satu orang yang membela Badrus. Hingga berlama-lama tutur mereka terus berlanjut.

***

Karim tetap dengan pandangannya memperhatikan bapaknya yang sedang memandikan sapi, yang lantas berpindah mencuci kaleles–nya yang penuh dengan abu. Ia memandang entah heran atau bingung, semua tercampur aduk di wajahnya, apalagi liburannya kini tinggal menghitung hari. Ia harus memilih antara bapaknya yang berhenti ngerap dengan taruhan dia sendiri yang terpaksa menyudahi jalannya mencari ilmu, atau melanjutkan pengabdiannya dan membiarkan bapaknya tetap berbaur dengan dunia kerap-nya. Karim benar-benar dibuat kewalahan oleh kelakuan sang bapak.

Mentari semakin membuncit di ufuk barat, menyorot antara tanah yang basah, menguarkan baunya yang khas sehabis ditimpa hujan. Karim dengan sorban bertumpu di pundak kanannya mendirikan salat petang berjamaah di nasjid kecil sekitar rumahnya, sedang bapaknya masih sibuk dengan sapi-sapi ataupun sama cambuk yang biasa ia pakai untuk menggiringnya. Karim sudah bersusah payah mengajak bapaknya itu untuk ikut salat berjamaah, berbaur bersama warga desa, namun nihil, kemauannya terlalu kecil untuk melawan kecintaannya pada sapi kerap.

Tasbih melingkari jari-jemari Karim, mulutnya bergetar melafalkan zikir satu-per satu. Hatinya ia paksa untuk tenang. Memohon petunjuk terbaik kepada yang kuasa untuk diambil, karena kini sudah tak ada yang bisa ia percayai untuk dimintai petunjuk. Lantaran nyaris seluruh penduduk desa semua pencinta sapi kerap, setiap warga sudah pasti memiliki sapi minimal dua sampai tiga sapi lengkap dengan kaleles yang sudah terbaring di halaman rumahnya.

Karim menjadi satu-satunya orang yang berbeda, seakan terasingkan meskipun tak semuanya sama. Masih ada beberapa yang selaras dengan Karim. Seperti Ustaz Wardi, tetangga sebelah yang hanya membutuhkan beberapa langkah untuk pergi ke rumahnya. Ia juga yang menjadi guru alif Karim dari sejak ia masih kanak-kanak hingga remaja. Ia juga yang menemani Karim menghadap kiai dan menyerahkannya untuk mondok. Namun kini sang ustaz sudah berkeluarga dan memutuskan ikut ke rumah istrinya. Kini Karim benar-benar menjadi seorang diri di desa itu.

***

Tinggalkan Balasan