“Kalau benar begitu kasihan sekali ya..”
Kasak-kasuk orang tentang Ke Sam cepat menyebar. Jadi bahan obrolan ibu-ibu di pasar dan bapak-bapak yang sedang bertani di tegalan.

***
Di ranjang bambu tubuh Ke Sam terbujur berselimut sarung kumal. Di samping kanannya, Sukina duduk dengan air mata yang terus jatuh. Wajah Ke Sam terlihat pucat. Seluruh tubuhnya seakan membeku. Hanya dari matanya semangat hidup masih terpancar.
“Kin, siapa yang mau ngurus sapi kita?” suaranya terdengar lemas.
“Jangan memikirkan sapimu. Urus saja kesehatanmu,” suara Sukina tertelan tangis.” Tadi anakmu nelepon. Dia marah-marah mendengar kabar kamu jatuh. Katanya orang-orang menganggap dia sebagai anak durhaka yang tidak mau mengurus orang tua.”
“Orang kan memang sering marah-marah.” Suara Ke Sam terdengar seperti bercanda.
“Dia juga bilang tidak mau mengurusmu bila terjadi apa-apa. Itu karena kamu tidak mendengarkan perkataannya.”
“Sudahlah jangan kamu terlalu pikirkan itu. Sapi kita telah besar, mungkin cukup untuk biaya kematian satu orang.”
“Kenapa kamu bicara tentang kematian?”
“Mungkin benar kata Mat Sukip, aku petani yang keras kepala. Tapi meski kepalaku keras, tak juga mampu menggembala sapi untuk mencukupi biaya kematian keluarga. Bahkan anakku harus merantau untuk membiayai kehidupannya.” Ke Sam mengembuskan napas seperti mengusir beban dadanya.
“Aku tidak pernah paham dengan keadaan zaman,” ucap Sukina berkeluh. ”Kita tahunya hanya menggembala sapi untuk tabungan hidup dan mati.” Wajahnya yang keriput makin keruh, suram tertutup muram.
Kelam malam yang dihidupi kerlip bintang dan suara jangkrik makin mencekam. Angin makin terasa menyusup ke tulang sumsum.
“Kin, aku kedinginan. Tambahkan selimut ke badanku.” Suara Ke Sam menggigil.
Sukina mengambil tiga sarung yang terlipat rapi di lemari untuk dijadikan selimut suaminya.
“Perempuan memanggul beban di kepala dan laki-laki memanggul beban di pundaknya,” ucapa Ke Sam sebelum matanya terpejam.
“Malam sudah larut, tidurlah,” sahut Sukina.
