Sapi Ke Sam

Perlahan, mata mereka pun terpejam.

***

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Luka di kepala Ke Sam semakin hari terus membaik. Tapi badannya semakin hari semakin kaku. Ia khawatir akan lumpuh. Siapa yang akan mengurus sapinya bila tidak bisa berjalan? Sukina sudah terlalu tua untuk menanggung beban seberat itu. Tanpa terasa air mengalir dari pelupuk matanya.

Cepat ia menghapus air matanya sesaat mendengar suara denyit pintu. Tak berapa lama berselang tubuh Sukina yang ringkih terlihat. Wajahnya nampak memancarkan kelelahan yang sangat. Hati Ke Sam semakin teriris melihat penderitaan di wajah Sukina. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tak jatuh. Ia merasah gagal jadi kepala rumah tangga bila melihat beban yang harus ditanggungnya jatuh ke pundak istrinya.

“Yang sabar, Kin, sapi tidak pernah membuat penggembalanya menyesal.” Suara Ke Sam terdengar seperti prajurit yang kalah dalam perang.

Sukina berusaha memberinya senyum. Tapi wajah letihnya tak mampu melukis senyum yang tulus. Tubuhnya yang letih ia empaskan ke ranjang bambu, tepat di sisi kanan tubuh Ke Sam. Siang yang terik mereka biarkan hening. Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Sukina. Ia memilih memejamkan mata.

“Kin, sekarang hari apa?” suara Ke Sam menyibak hening.

“Hari Rabu…,” jawab Sukina lesu.Jawaban Sukina membuat wajah Ke Sam tegang.

“Kin, aku lahir hari Jumat,” belum selesai berucap, Sukina memotong.

“Jangan membahas kematian. Sekarang aku sedang capek.”

Ke Sam mengurungkan niatnya berucap. Ia memilih memejamkan mata meski tak benar-benar bisa terpejam.

Dua hari berlalu, pada hari Jumat siang saat, Sukina datang dari kandang. Ke Sam terbujur kaku tanpa nyawa di ranjangnya. Tangis pecah, kesedihan melimpah. Gunjingan orang-orang kampung menambah pilu hati Sukina. Tak sedikit orang yang mencibir anaknya yang tak pulang sewaktu Ke Sam sakit. Sampai kematian menjemputnya, sang anak belum juga datang.

Meski berkali-kali Sukina menyampaikan perihal kendala anaknya lambat pulang, tapi gunjingan orang-orang kampung terus melimpah seperti air sungai yang meluap. Setelah satu hari mayat Ke Sam terbujur di ranjang, anaknya baru datang. Setibanya sang anak, mayat Ke Sam pun dikubur.

Lepas tujuh hari kematian Ke Sam, Sumatro, orang yang dipinjami uang oleh Sukina untuk biaya kematin Ke Sam, datang. Ia menagih utang. Ribut kecil pun terjadi. Anak Ke Sam tak sanggup membayarnya. Hasil kerjanya di kota hanya cukup untuk ongkos pulang. Dan Sukina hanya mampu mengalirkan air mata. Perundingan siang itu berjalan cukup alot. Sumatro pun kehilangan akal. Tak mungkin ia menyita rumah yang hanya terbuat dari anyaman bambu. Dan tak mungkin ia memyita tegalan yang luasnya hanya cukup untuk kandang sapi.

“Sapi…?!” ucap Sumatro dengan wajah girang. “Bagaimana kalau utang kalian ditukar dengan sapi Ke Sam?”

Sukina dan anaknya tercengang. Mereka baru ingat pada sapi peninggalan Ke Sam. Tanpa aba-aba mereka serempak setuju. Senyum sumringah mengusir kekalutan di wajah Sukina.  Sedangkan anak Ke Sam nampak murung, terpukul ingatan.

Yogyakarta, 2024.

Tinggalkan Balasan