Sastra dan Multidisiplin Keilmuan Pesantren

Sedangkan, secara kontekstual, ia lebih luas. Pesantren adalah ruang sastranya. Di dalamnya ada akal budi sebagai penggerak untuk mewujudkan keindahan. Baik itu berupa pola komunikasi, sikap pengetahuan atas persoalan yang muncul, bahkan pendekatan agama dalam memecahkan persoalan sosial adalah bagian dari sastra. Dengan kata lain, keindahan adalah di atas segalanya.

Sebagai fondasi dasar, sastra adalah rangkaian dari hubungan sosial yang dibangun di pasntren, kemudian diaplikasikan ke kehidupan sosial. Bisa saja berangkat dari pesan Tuhan yang mafhum di telinga kita, yaitu “li ta’arafu” untuk saling mengenal, memahami, menghormati bahkan menghargai.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita bisa mengaitkan pesastrian, sastri, sastra, yang mana, asumsi dasarnya adalah menguatkan pada pandangan untuk belajar memantapkan diri lalu mengabdi. Hal yang bisa kita gali adalah, bahwa tiga kata di atas memiliki darmanya masing-masing, dan tentu akal budi sebagai penggeraknya.

Kita bisa menganalisanya melalui salah satu syair Jawa-Melayu di bawah ini:

Sun miwiti anarik akaling bocah
Mbok menawa lawas-lawas bisa mecah
Bisa mikir bisa ngrasa bisa nggenah
Kabeh iku ngarep-ngarep min fadlillah
Wajib bapa aweh sandang mangan ngimel
Aweh arta sangu ngaji aja owel
Lan arep kasil ngilmu bawang sebel
Aja nganti atos ati amakiyel.

Syair ini adalah Singir Darma Wasana, di mana menurut Darnawi (1964:82), kalimat terakhir pada syair ini adalah petikan dari kitab Jauharut Tauhid-nya Mbah Saleh Darat. Di mana pesan yang disampaikan pada syair tersebut mengandung darma dan petuah bagi orang tua untuk memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada anaknya.

Tinggalkan Balasan