Membangkitkan pesona dapat diartikan sebagai kesadaran individu untuk melihat hal-hal yang indah (baca: bermanfaat) di dalam naskah sastra itu sendiri. Karya sastra dapat dijadikan referensi individu untuk membangun dinamika kehidupan.
Tidak sedikit para ulama, filsuf, dan orang-orang terkenal yang mahir di bidang sastra. Seperti para sastrawan muslim, di antaranya Jalulluddin Rumi, Al-Ghazali, Imam Syafi’i, Umar Khayam, Sayyid Qutb, dan Sir Muhammad Iqbal. Filsuf Eropa seperti Leo Tolstoy dan Nietzsche. Pun, dari Indonesia ada Pramoedya Ananta Toer, Taufik Ismail, Hamka, WS Rendra, dan lain-lain. Mereka telah menyelami keindahan atau estetika sastra dan larut dalam dimensi sastra yang sesungguhnya. Ini memberikan bukti bahwa sastra adalah nilai-nilai kebenaran yang patut untuk dipahami.

Karakter dan Spirit Sastra
Horace, “Sastra adalah indah dan berguna.” Hal ini sebagai spirit dalam jiwa seseorang bahwa sastra akan berdampak signifikan. Memberikan nilai positif, membangun tata nurani untuk kehidupan sosial. Buya Hamka mengatakan, “Sesuatu yang dibutuhkan untuk menghaluskan jiwa adalah seni dan sastra.”
Sastra, menurut Buya, akan memberikan nilai estetik yang akan membangun etika seseorang. Sehingga, sastra, di samping seni, atau seni sastra, akan membentuk jiwa seseorang menjadi lembut, beretika, dan ber-akhlakul karimah.
Karakter merupakan sikap dan sifat seseorang yang dipandang sebagai pembangun jiwa. Di dalam tubuh seseorang terdapat sifat yang sewaktu-waktu dapat ditunjukkan sebagai manifes atas eksistensi seseorang. Menjadi sebentuk sikap yang akan dinilai baik dan buruknya. Karakter yang baik akan melahirkan penilaian yang baik pula. Sebaliknya, karakter yang buruk akan melahirkan nilai yang buruk pula.
Pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik. Tindakan mendidik tersebut diperuntukkan bagi generasi bangsa yang akan datang. Sementara, tujuan dari pendidikan karakter adalah untuk melatih diri dari masing-masing individu demi memperoleh kesempurnaan hidup yang lebih baik. Pendidikan karakter diperlukan demi tegaknya bangsa dan negara di bawah kemerdekaan hakiki yang berkeadilan.
Sastra dan pendidikan karakter merupakan kolaborasi dua aspek yang saling membangun. Sastra adalah sebuah pendidikan, dan pendidikan itu dapat diperoleh dari nilai sastra. Karena, sastra mengajarkan kelembutan, kebenaran, keberanian, keadilan, takwa, dan keimanan. Al-Quran dan al-Hadits merupakan bagian dari sastra yang mengandung nilai-nilai pendidikan yang komprehensif.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
