Kegiatan muhadhoroh yang dilaksanakan di aula

Sastra Pesantren di Era Milenial

Di era sekarang, jenis karya sastra ini bertambah dengan maraknya media sosial dan teknologi yang mengalami banyak perkembangan. Selain jenis yang berdasarkan bentuk dan isinya, sastra juga dapat dibedakan berdasarkan tempat karya sastra itu berkembang dan hidup, seperti sastra pesantren.

Lalu, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan sastra pesantren? Menurut Abdurrahman Wahid dalam Sunyoto (2012), apa yang dimaksud sastra pesantren dapat dijelaskan dalam dua definisi. Pertama, sastra pesantren merupakan karya sastra yang mengeksplorasi kebiasaan-kebiasaan di pesantren. Kedua, sastra pesantren merupakan karya sastra yang bercorak psikologi pesantren dengan struktur agama (warna religius) yang kuat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keberadaan sastra dalam pesantren bermula sejak berdirinya pesantren pertama di Nusantara, yaitu Pesantren Tegalsari pada tahun 1742. Memang, dari berdirinya Pesantren Tegalsari tersebut hingga sekarang, tidak terdapat kurikulum sastra dalam pesantren. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan untuk mengajarkan sastra di lingkungan pesantren.

Sastra yang sering digunakan dalam pesantrren biasanya berupa syair atau puisi, seperti syair pada Nadhom Alfiyah Ibnu Maliki, Nadhom imrithi, Nadhom Aqidatul Awwam, dan sebagainya. Para santri bukan hanya dilatih untuk membaca, melainkan untuk dihafal dan diserahkan kepada guru atau ustaz. Para guru atau ustaz juga tentunya akan menjelaskan apa maksud yang terkandung dalam nadhom tersebut dalam pembelajaran di pesantren.

Sastra yang digunakan dalam pesantren bukan hanya berupa puisi atau syair. Kitab Mahfudzat atau kitab yang berisi kata-kata mutiara yang indah juga dipelajari. Kitab Mahfudzat ini umumnya dihafalkan oleh para santri dan diamalkan untuk memotivasi diri.

One Reply to “Sastra Pesantren di Era Milenial”

Tinggalkan Balasan