Sastra Sufi vs Khotbah Agama

Kedua, ruang publik hari ini mengutamakan kecepatan dan efisiensi komunikasi. Bahasa puisi dianggap lamban, tidak efektif, dan tidak langsung. Dalam dunia yang dilanda krisis ekonomi, identitas, dan makna, orang lebih suka solusi cepat dan jelas. Maka ujaran agama yang memberikan perintah siap pakai terasa lebih menenangkan.

Ketiga, munculnya kelas menengah muslim yang ingin menunjukkan identitas agama mereka secara tegas dan publik. Mereka mencari kepastian, bukan ambiguitas. Dan sastra sufi, dengan seluruh kabut metaforanya, tidak menawarkan kepastian.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Pertanyaannya bukan memilih sastra sufi atau ujaran agama. Tapi apakah kita masih bisa menciptakan ruang di mana keduanya bisa hidup berdampingan?

Apakah mungkin seorang kiai menyampaikan ayat Al-Qur’an dengan penjelasan fikih, lalu menutupnya dengan puisi Rumi? Apakah mungkin ada ruang dakwah yang juga menyertakan pembacaan sastra dan perenungan puisi? Apakah mungkin algoritma digital disusupi oleh konten-konten yang lamban tapi mendalam?

Beberapa komunitas kecil sudah mencoba ini. Komunitas pembaca puisi sufi di pesantren, diskusi tematik tafsir batin di ruang-ruang privat, bahkan konten TikTok yang memadukan bacaan tasawuf dengan musik ambient. Namun upaya ini masih tersebar, kecil, dan nyaris tak terdengar dalam hiruk-pikuk wacana publik Islam.

Di antara sekian banyak definisi Islam, yang paling puitik justru datang dari wahyu pertama: rahmatan lil ‘alamin. Sayangnya, ujaran agama hari ini lebih sering menjadi ketakutan bagi yang berbeda, alih-alih rahmat. Dalam konteks ini, sastra sufi menawarkan napas yang kita butuhkan, bukan untuk menjawab semua hal, tapi untuk kembali bertanya. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk menyembuhkan.

Tinggalkan Balasan