Satu Putaran atau Berputar-putar

Kedua, mempengaruhi psikologi massa. Hasil survei dan posisi “di atas angin” memang dapat dimanfaatkan sebagai strategi kampanye untuk mempengaruhi psikologi massa, terutama bagi kalangan undecided voters yang jumlahnya masih sangat besar. Sebab, per teori, orang akan cenderung memilih menjadi bagian dari kerumunan yang lebih besar. Seorang individu akan cenderung lebih memilih menjadi bagian dari siapa yang dianggap akan keluar sebagai pemenang. Buat apa memilih mereka yang akan kalah atau tak diunggulkan? Teori itulah yang dipakai oleh kubu yang ngotot menang satu putaran.

Dengan demikian, sejatinya seruan atau ajakan dari kubu mana pun untuk menyelesaikan pemilihan presiden satu putaran bisa dimaknai dalam dua level. Pertama, semata-mata hanya merupakann strategi kampanye untuk mempengaruhi suara pemilih. Tidak ada hubungannya dengan penghematan anggaran atau untuk menjaga kedamaian dan keharmonisan di akar rumput. Toh, negara juga sudah menganggarkan skenario untuk dua putaran sebesar Rp 76,6 triliun. Perputaran anggaran sebesar Rp 76,6 triliun tersebut justru akan mendorong kegiatan ekonomi masyarakat bawah makin menggeliat. Selain itu, masyarakat juga sudah terbiasa dengan pelaksanaan pemilu dua putaran atau yang berputar-putar. Dalam pengertian, dari pemilu ke pemilu, hasilnya distribusi kekuasaan dan sumber-sumber ekonomi tetap berputar-putar di lingkaran elite.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kedua, jika bukan dari bagian strategi kampanye, seruan atau ajakan untuk menyelesaikan pemilihan presiden satu putaran bisa jadi merupakan bagian dari strategi untuk menutupi atau membungkus kecurangan. Sebab, nafsu dan ambisi yang mengalahkan realitas berpotensi mendorong orang untuk menempuh segala cara, termasuk menabrak rambu-rambu hukum dan etika dalam berdemokrasi.

Jadi, satu putaran atau dua putaran, semua diakomodasi dan sah dalam sistem demokrasi. Suara rakyatlah penentunya, bukan kehendak kaum elite.

Tinggalkan Balasan