Ada yang khas setiap kali beliau menyampaikan ceramah, yaitu cerita-cerita lucu penuh hikmah, nilai-nilai keIslaman, dan nilai-nilai kemandaran yang melekat dalam ceramahnya.
Suatu waktu, beliau berceramah di Masjid Syuhada Polewali Mandar, dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad. Beliau menceritakan bahwa ayahnya pernah bercerita, masyarakat Mandar ketika mendapatkan informasi atau berita tentang musibah, secara spontan akan mengucapkan ‘Hamma’ atau ‘Hamma e’. Ungkapan itu merupakan singkatan dari kata ‘Muhamma’,merujuk kepada Nabi Muhammad.

Kebiasaan itu lahir karena mereka sudah diajarkan oleh Annangguru terdahulu, untuk senantiasa menghormati Nabi Muhammad dengan cara, sering-sering menyebut namanya. Sehingga sampai pada tingkat ekspresi kekagetan masyarakat Mandar, secara spontan memanggil Nabi Muhammad.
Selain cerita-cerita yang sarat makna, dalam berceramah beliau lebih banyak menggunakan bahasa Mandar sebagai bahasa sehari-hari masyarakat di Pambusuang. Beliau memahami betul, bahwa menyampaikan dan mengajarkan Islam harus sesuai dengan bahasa kaumnya.
Bahkan lebih jauh, dalam salah satu ceramahnya beliau menyampaikan tidak ingin dikenal sebagai ulama kharismatik atau berwibawa, sebab itu bisa menciptakan jarak dengan jamaahnya.
