Sebab Aku Bukan Seorang Nyai

“Aku tidak perlu bertukar tempat untuk menjadi sepertimu. Hanya butuh keberanian melakukan apa yang aku inginkan. Aku sengaja tidur dengan kekasihku sampai aku hamil dan berkabar kepada orang tuaku agar perjodohan tidak pernah terjadi dalam hidupku. Aku tidak bisa membayangkan hidup dengan orang yang tidak aku inginkan dan tidak mencintainya. Aku tak ingin menjadi seperti kakak-kakakku yang dijodohkan dengan keturunan kiai dan dia menjadi seorang bu nyai. Aku sengaja merusak citra semua itu dan aku ingin memperbaikinya kembali.”

Mulanya aku tidak mengerti apa maksud dari surat yang Yulia tulis. Lalu, aku menunjukkannya kepada Bu Nyai agar mendapat penjelasan. Beliau tidak bisa menjelaskan dan memintaku menyimpan surat itu untuk tidak menyebarluaskannya. Sejak peristiwa kehamilan Yulia, hanya akulah santri yang bertahan tinggal karena yang lainnya memutuskan untuk pindah ke pesantren lain.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Orang tua Yulia menganggapku seperti anaknya sendiri. Beliau mengizinkanku keluar dari pesantren ketika aku menikah. Tapi sayang, aku tidak juga menikah sampai usia dua puluh lima tahun, sedangkan teman-teman seumuranku sudah mempunyai anak usia tiga tahun. Akhirnya, aku dijodohkan oleh orang tuaku. Aku keluar dari pesantren dan menikah.

Pada umumnya, wanita di desaku akan menjadi wanita yang merawat rumah, ladang, ternak, dan keluarga. Sedangkan, aku, selama lulus SD sudah tinggal di pesantren yang di sana tidak diajari bagaimana beternak, bagaimana bertani, dan hanya memasak untuk makan bersama santri yang lain. Hari-hari menghabiskan waktu hanya dengan mengaji Al-Qur’an, menyimak Pak Kiai menjelaskan kitab-kitab kuning—yang salah satunya kitab Qurrotul Uyun, tentang hubungan suami istri, tentang tata cara bersenggama. Yang selalu kuingat adalah nasihat di dalamnya tentang penjelasan untuk memuaskan pasangannya. Dan, di pesantren kami diajarkan hidup sederhana.

Jadi, pertama-tama yang aku lakukan saat menikah adalah mengenal silsilah keluarga suamiku, menghafalkan nama-nama saudara dari suamiku, membuatkannya kopi di pagi hari. Kami ke ladang bersama mencari rumput sampai azan zuhur. Lalu kami pulang, mandi, salat, makan siang, dan istirahat.

Semenjak menikah, aku tidak pernah memikirkan surat-surat yang dikirim Yulia, bagaimana kehidupannya di Surabaya. Kehidupanku sendiri sudah sangat tidak membuatku diam melamun. Pekerjaan rumah yang tak pernah selesai, dan aku harus melupakan segala keinginan-keinginanku tentang cita-cita. Saat ini, misi dalam hidupku hanyalah tiga hal di tersebut.

Sesekali aku berkirim kabar tentang Pak Kiai yang dengan sabar merawat Bu Nyai yang sedang sakit—tidak bisa bangun dari tempat tidur—yang kata orang desa semua itu adalah karma yang harus dibayar. Berkabar tentang pernikahanku, tentang kehidupan seadanya yang aku jalani. Aku mengikuti rutinan pengajian bersama ibu-ibu setiap hari Jumat sore, sedangkan para suami mempunyai kegiatan kelompok tani yang diadakan setiap malam Minggu.

Kabar duka datang dari Pak Kiai. “Innalillahi wainnailaihi rojiun, telah meninggal dunia Bu Nyaiku,” Ibu dari sahabatku, Yulia.

Tinggalkan Balasan