Aku, yang waktu itu sedang di ladang, berlari berteriak memanggil orang-orang yang lagi sibuk mencari rumput untuk sapi-sapi mereka.
“Ayo, ke pesantren! Bu Nyai Khasanah meninggal!” aku berteriak sambil menangis.

Semua orang berlari mengikutiku. Setelah sampai di pesantren, aku melihat Yulia duduk bersimpuh di depan jenazah Bu Nyai. Aku spontan memeluknya. Itu adalah pertama kali aku melihatnya setelah dia meninggalkan desa.
Seluruh warga desa datang ke rumah duka. Pak Kiai menunduk di depan para pentakziah. Ketika jenazah sudah siap disalatkan, Pak Kiai berdiri, beranjak ke masjid yang ada di dekat pesantren. Warga bergegas ikut menyalati jenazah.
Sebelum jenazah diberangkatkan ke pemakaman, Pak Kiai memberikan sambutan atau penghormatan terakhir kepada almarhum istrinya. Beliau meminta maaf atas nama keluarga dan anak-anak, memohon untuk dimaafkan segala kesalahan keluarganya, dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga desa yang hadir di rumah duka. Pernyataan Pak Kiai yang tak akan pernah aku lupakan adalah, “Anak-anak adalah ujian bagi orang tuanya sekaligus rezeki.”
Malang, 2025.
Sumber ilustrasi: karya jeihan sukmantoro, wix.com.
