Sebuah Narasi yang Terluka

Kami para perempuan hanya bisa berlindung di dalam masjid ini. Kami memanjatkan doa, dengan harap semoga Tuhan semesta alam memberikan perlidungan.

“Wahai Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jadikanlah kami hamba yang senantiasa istiqomah dan taat dalam beribadah kepada-Mu. Jadikanlah kami hamba-hamba yang senantiasa ikhlas menjalani setiap liku kehidupan yang fana ini. Naungilah kami selama di dunia, hingga kembali pada pangkuan-Mu, dan sampai ke janah-Mu.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kerusuhan berlangsung selama lebih dari tiga jam. Beruntung, tidak ada yang tewas dalam bentrok kali ini.

***

Masih sanggupkah engkau membaca narasi ini? Masih sanggupkah engkau mendengar jerit pilu yang kami rasakan selama ini? Lima belas tahun aku hidup di Kamp Shati, tak ubahnya dengan hidup di kampung halaman. Di Kamp Shati mimpi buruk baru tercipta. Bayangan bejat tak beraturan menghantui ruang pikiran. Manusia-manusia berwajah malaikat namun berhati iblis berkeliaran.

“Nona cantik, bersediakah engkau bermalam denganku? Aku akan memberimu bantuan makanan dua kali lipat lebih banyak dari biasanya,” rayu Mahmed, relawan Bulan Sabit Merah yang sering diterjunkan di Kamp Shati, sambil menarik kerudungku.

“Tidak! Aku tidak akan menyerahkan kehormatanku kepada laki-laki iblis sepertimu!” sergahku dengan penuh amarah.

“Baiklah … tidak apa Humayra, aku tidak akan memaksa bila engkau enggan bermalam denganku. Masih banyak perempuan yang masih mengharapkan bantuanku.”

“Kau benar-benar laki-laki terkutuk dari neraka dan akan dikembalikan ke Jahanam!”

Bantuan makanan yang seharusnya kami terima dengan sukarela, justru menjadi momok menakutkan bagi para perempuan. Barangkali akan lebih baik mati terhormat bersebab kelaparan atau mati di tangan pasukan Zionis, daripada menukarkan kemaluan demi sesuap nasi.

***

Tinggalkan Balasan