“O.. iya, Pak. Saya sedang mencari rumahnya Farkhan. Mohammad Farkhan nama lengkapnya, apakah bapak tahu?”
“Kebetulan sekali Mas, ini adalah rumahnya, saya adalah bapaknya.”

“O.. begitu rupanya, lalu mengapa begitu banyak anak-anak yang bermain di rumah Bapak?”
“Mereka adalah anak-anak yatim yang diasuh oleh Farkhan, anak saya. Siapa sebenarnya Mas ini ya?”
“Saya Rius,” begitu berat rasanya lidahku untuk mengatakan yang sebenarnya; bahwa aku adalah dosennya.
“Farkhan masih mencari rumput dan angon bebek.”
“Jauh Pak?”
“Agak jauh biasanya. Maklum, biasanya aku yang kerja. Sedang saat ini penyakitku kambuh. Farkhan pun sepertinya tak lagi semangat kuliah. Mending uangnya buat menghidupi anak-anak yatim yang kurawat sejak lama, begitu katanya. Dia anak asuhku juga. Oh, mari-mari silakan masuk ke gubuk kami,” pintanya dengan suara ramah.
Pikiranku berkecamuk bersamaan ayunan langkah kakiku. Aku merasa malu pada Farkhan. Anak yang selama ini kuanggap ndesit itu ternyata seoarang yang begitu mulia. Ia memang tak mampu menguasai ilmu yang aku ajarkan dengan baik. Tapi tenyata dia mampu mengamalkannya.
Mungkin inilah maksud surat itu. Bahwa manusia bisa mulia jika punya ilmu dan bisa mengamalkannya. Tapi manusia juga bisa mulia walaupun tak punya banyak ilmu jika kebaikan adalah jalan hidupnya. Menolong adalah napas hidupnya. Sedangkan aku?
Gading, 6 april 2012.
