Segunung Sekam

Pemuda yang tiap hari bekerja menjaga kandang ayam pedaging itu menggaruk-garuk kepalanya. Dia berkata pada I’am bahwa teman yang biasa mengangkut dedak persak (sekam pagi) kabur tiba-tiba. Membawa gaji sebulannya yang sudah diserahkan sang bos pada tanggal pertengahan. Jismu pusing bukan kepalang. Dia harus mengangkut 200 karung dedak persak besok, sendirian.

“Besok jam berapa?” I’am menyela cerita.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Pagi, Cak, dua hari harus selesai.”

“Oke, besok tak jemput ke rumahmu.”

“Lo, aku gak tahu lo, Cak, ini bakal digaji apa enggak.”

“Ada kopi sama makan, kan?”

“I-iya, Cak.”

“Oke, cukup.”

I’am mengakhiri perbincangan mereka dengan meneguk tehnya sampai tandas. Dia menyalami Jismu dan berpamitan akan menuju kandang kambingnya.

Pagi-pagi motor tua pemberian almarhum bapaknya telah dipanasi. Tak ada nasi ataupun lauk. Bahkan gula dan kopi juga tandas tinggal wadahnya. Selang beberapa saat, dia meluncur ke rumah Jismu yang ada di pojok desa. Melewati beberapa rerimbunan bambu dan jalan yang belum bisa disematkan kata layak untuk dilewati.

Jismu bergegas keluar saat I’am memanggilnya dari luar rumah. Sebelumnya dia telah menyiapkan seratus karung untuk wadah dedak persaknya. Mereka akhirnya menuju salah satu penggilingan gabah di dekat gapura desa. Dedak itu menumpuk di bagian belakang. Menjulang dan mengerucut bagai Gunung Penanggungan. Tanpa banyak bicara mereka langsung memulai pekerjaan. Keringat bercucuran dari segala penjuru tubuh. Pada karung kelima puluh, Jismu mengajak seniornya itu berhenti sejenak. Menikmati kopi yang telah diantar oleh bos Jismu ke tempat bekerja mereka.

Tinggalkan Balasan