Segunung Sekam

“Kenapa, Cak?” pertanyaan dari Jismu sedikit membuat I’am terkejut. Namun tak lama dia langsung memahami apa yang dipertanyakan oleh adik tingkatnya tersebut.

“Ini adalah hasil angan-angan dari guruku dulu,” I’am mulai menjabarkan alasannya. Bahwa dulu gurunya pernah berpesan, manifestasi dari sebuah manusia yang paling bijaksana ada pada tanaman padi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Oryza Sativa itu bukan hanya simbol dari sebuah kerendahan hati, semakin berisi semakin menundukan diri. Namun juga simbol kepekaan diri. Lihat saja padi yang dulu ditanam, bukankah yang ditancapkan oleh para petani itu dulu hanya sebatang. Namun ia menunggu anak-anaknya berkembang dan tumbuh. Membagikan makanan dan sinar mentari dari Tuhan kepada batang padi yang baru tumbuh di sekitarnya. Lalu tumbuh bersama, sampai akhirnya sama-sama berisi dan dipanen bersamaan.

“Tak ada persaingan dan ego, bahwa padi yang ditanam paling dulu harus dipanen paling dulu juga. Itulah yang membuat padi lebih manusiawi daripada manusia zaman sekarang,” kalimat itu menutup cerita I’am.

“tapi, Cak, saya tidak mengerti. Pekerjaan ini bisa saja tak dibayar lo, Cak. Bos mungkin sudah tak punya uang buat bayar orang lain.”

Mendengar hal ini I’am malah tertawa. Sontak Jismu semakin tak mengerti dengan tingkah seniornya itu. Dari dulu memang tindakannya kadang lebih nyeleneh dari pada orang lain. Bahkan, kadang dia dijauhi teman sepermainannya. Tapi ketika ada orang yang meminta bantuan tak sekalipun ragu dia menjawab dengan anggukan. Kecuali bila memang itu hal yang tak benar.

“Mu, Jismu, lebih berharga mana sekam ini dari emas?” sekali lagi pertanyaan itu membuat Jismu meninggikan sebelah alisnya.

“Ya emas-lah.”

“Bagi manusia mungkin emas, kalau untuk para anak ayam yang ada di kandangmu?”

Kalimat itu membuat Jismu tak lagi bisa membantah. Di hadapan tumpukan dedak persak yang tinggi itu dia hanya terduduk manis dengan kopinya yang belum sempat ditenggak habis. Namun matahari mulai meninggi, dan masih banyak karung-karung yang belum terisi. Dalam pikirannya dia mungkin telah lama salah memahami dunia, dan yang mengingatkannya adalah sang senior di kehidupannya. Bahwa sebaik-baik manusia, tetaplah yang bermanfaat bagi sesamannya.

Tinggalkan Balasan