Seh Mejagung

“Lihatlah, Lemahabang,” katanya, “Dan dengarkan. Tak tahukah kau bahwa batu dan kayu memiliki zat Tuhan.” Di luar, burung-burung berterbangan. “Tidak ada desah napas tanpa menyebut Tuhan.” “Aku hanya tahu,” kata Lemahabang, “tiap-tiap kita penuh dengan dosa.” Jauh kemudian, Lemahabang tahu jalan menuju pelepasan.

Begitulah sejarah meneguhkannya. Ia bukan hanya pelindung bagi Mbah Kuwu Cirebon –atau Walangsungsang. Juga guru Lemahabang. Dalam catatan wali-wali Jawa, ia dianggap wali angkatan pertama. Ia datang untuk mengajarkan keadaan zat Tuhan. “Adakah tempat yang dapat melindungi manusia dari penglihatanNya,” katanya. “Padahal Allah lebih dekat dari hitam matanya.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kalau tak salah ingat, dalam Babad Cirebon, Seh Mejagung bersama Seh Lemahabang dan Seh Bentong termasuk kelompok wali sembilan. Maulana Akbar atau Ki Gede Penderesan atau Pangeran Pajarakan julukan lainnya. Ia saudara Seh Datul Kahfi. Dan menikah dengan Nyi Wandasari, putri penguasa Sidapurna, Prabu Surayana –anak selir Raja Niskala Wastu Kencana.

Meski demikian, dalam satu catatan sejarah, saya temukan jejaknya agak jauh dari tempat ia dimakamkan di Penderesan, Gunung Jati. Disebutkan bahwa Sunan Mejagung atau Mujo Agung atau Maulana Ali Mukhid atau Raden Alim Abu Hurairah masih punya hubungan saudara dengan Sunan Ampel. Sementara bukti lain menyebutkan Seh Mejagung ialah putra Ratu Dwarawati, istri Prabu Brawijaya.

Begitulah. Sejarah merentang panjang. Kita yang hidup di awal baru tertelan oleh jarak. Dan segala yang tampak di belakang tinggal noktah yang nyaris tak terlihat. Samar-samar saya hanya ingat dialognya dengan Walangsungsang. “Tanah Cirebon, membuat saya penasaran,” katanya. “Saya ingin segera ke sana.”

“Sabar, paman,” jawab Walangsungsang. “Saya ingin berkeliling ke penjuru Mekah terlebih dahulu. Selesai itu, kita akan berlayar menembus lautan luas.”

“Baiklah, aku tunggu saat itu.”

Dan karena tak ada kabar kapan ke Cirebon. Seh Mejagung memutuskan berlayar sendiri dan sampai juga di Muara Jati. Ketika tiba di Pasambangan, ia menambatkan sampan di tempat sunyi di pinggir sungai. Gunung Jati tidak jauh dari situ, tapi ia memilih tinggal di Giriliman atau Gunung Gajah –Gunung Semar sekarang. Sesudah itu, puluhan pasang mata dan luapan rasa cinta tertuju padanya. Dan sampai meninggalnya, ia di sana, ia tetap di Penderesan, dan dimuliakan namanya. Sosok yang disegani, mendapat kedudukan terhormat.

Dan, satu hal yang membuat saya selalu takjub adalah kenyataan bahwa ia ikut hadir dalam persidangan Lemahabang. Mejagung-lah bersama Seh Maghribi, Seh Bentong, dan Sunan Kudus yang ditugaskan menjemput Lemahabang. Saya coba membayangkan kata-katanya waktu itu. Sampai akhirnya, saya memutuskan membuka Naskah Mertasinga, mata saya terantuk oleh dialog Lemahabang dan Walisanga di Girigajah dan Gunung Ciremai. Inilah petilan tanya-jawab itu.

Tinggalkan Balasan