Malam Kelam di Tengah Kebun Tebu

Malam yang gelap ditingkahi suara burung hantu membuat suasana terasa mencekam. Burung itu mengeraskan suaranya kala aku telah berhasil melompati sebuah parit kecil. Aku tertawa dalam hati. Kau kira aku akan takut padamu, wahai burung hantu? Kau salah besar. Aku bahkan lebih menakutkan daripada hantu itu sendiri. Ketakutan adalah kawan karibku. Rasa takut adalah senjataku.

Kakiku terus melangkah. Semak-semak kulewati. Pematang sawah kulalui. Sampai juga aku di jalan beraspal. Aku mengambil jalan tikus. Jalan kecil yang hanya dilalui orang-orang yang mau ke sawah atau orang yang kebetulan kebelet di tengah jalan dan hendak membuang hajatnya di kali seberang sana. Aku berjalan dengan tenang. Di buntalan sarungku telah siap peralatanku untuk mencari nafkah malam ini. Aku pasti akan berhasil lagi. Desa ini cukup sepi. Jarang ada orang masih berseliweran di malam hari. Apalagi di malam segelap ini. Langkahku terus berpacu. Kulihat di ujung jalan sana ada rumah yang cukup besar. Cahaya lampunya cukup terang. Aku berjalan menghindari cahaya. Kulalui jalan setapak menuju rumah milik janda kaya itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Janda kaya pemilik rumah ini pasti sudah tidur. Lampu di dalam rumah telah mati. Langkah kakiku kuperlambat. Aku mengamati sekitar rumah untuk memastikan keadaan aman. Setelah jarakku semakin dekat aku melihat ternyata lampu kamar di sisi kanan masih menyala. Aku lantas bersembunyi di balik pohon beringin yang rindang dan gelap. Apakah janda itu masih belum tidur di tengah malam seperti ini? Kudengar suara pintu dibuka. Aku jadi was-was. Sepertinya dia memang belum tidur. Kucoba tunggu barang beberapa saat. Mungkin dia akan segera tidur. Aku lantas memanjat cabang beringin untuk melihat isi kamar itu dari lubang ventilasi. Janda itu keluar kamar menuju ruang tamu. Lampu menyala. Tapi sebentar kemudian lampu mati kembali. Bahkan lampu depan rumah juga mati. Mau apa orang itu? Aku diam memantau keadaan.

Tiba-tiba dari jalan setapak yang baru saja kulewati tadi terdengar suara daun kering terinjak. Suara langkah kaki terdengar agak samar di ujung pendengaran. Semakin lama suara langkah kaki itu semakin jelas di telingaku. Detik berikutnya sesosok bayangan terlihat mendekat. Entah siapa dia. Apakah dia juga maling sepertiku? Keadaan sedang gelap sekali, tak dapat aku mengenalinya. Pandanganku beralih ke rumah janda kaya itu lagi. Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Dan bayangan hitam itu menuju ke sana. Siapa dia? Aku semakin penasaran. Lampu rumah tiba-tiba dinyalakan lagi. Sarjud kah dia? Iya benar, penglihatanku tidak salah lagi. Lalu carik desa itu mau apa datang kemari malam-malam gelap begini? Lampu rumah kemudian mati. Dari lubang ventilasi kulihat mereka masuk ke dalam kamar. Bejat! Sejak kapan janda itu jadi selingkuhannya? Di depan orang saja carik itu kelihatan baik! Nyatanya? Cuih! Tak lebih baik dariku! Begini-begini aku nekat karena demi menafkahi keluargaku? Dia? Bangsat sekali dia harus menafkahi batin janda pelit itu!

Haruskah kutunggu mereka selesai “main” untuk melancarkan aksiku? Setelah ini pasti mereka akan segera kelenger. Aku mencoba bersabar untuk menunggu mereka selesai. Mereka tak akan lama. Sarjud sekerempeng itu. Tenaganya pasti tak seberapa. Dia tak akan kuat berlama-lama bermain dengan janda itu. Dan tak mungkin pula Sarjud akan menginap di sini. Ketahuan warga bisa mampus dia. Mungkin carik desa berperawakan kerempeng itu tadi pamit pergi mengairi sawah bengkok pada istrinya sampai dia berani masuk rumah orang malam-malam begini.

Aku duduk dengan tenang di cabang pohon beringin sambil memikirkan strategiku memasuki rumah mewah itu nanti. Ah, janda itu pasti akan kecapekan setelah meladeni Sarjud. Ini akan mempermudah langkahku. Sial, tiba-tiba aku bersin. Tak dapat kutahan. Siapa yang dapat menahan bersin? Tak ada kukira. Lalu kutengok ke kamar itu. Lampu telah mati. Ada suara pintu berderit. Mungkin Sarjud keluar rumah. Dia pasti mendengar bersinku. Dikiranya mungkin aku adalah warga yang akan membongkar perselingkuhan mereka. Aku tahu. Aku orang jahat. Tak perlu saling melaporkan sesama penjahat. Aku bukan tipe penjahat yang pura-pura baik dengan melaporkan kejahatan orang lain. Bagiku kejahatanku. Dan baginya kejahatannya.

Kanan-kiri rumah itu ditanami pohon pisang. Mungkin dia menyelinap di sana. Sedangkan tetangga rumah itu terbilang agak jauh. Aku harus pergi. Tak ingin aku menyia-nyiakan waktuku di sini. Persediaan makan besok dan lusa buat anak-istriku harus kudapat malam ini. Aku bergegas turun dari pohon beringin dan meninggalkan pekarangan rumah itu dengan langkah cepat. Misi pertamaku malam ini gagal total. Aku terus berlalu. Umpatan dan sumpah serapah kuulang-ulang sambil berlari.

Dari sebuah penjuru desa kudengar bunyi kentongan satu kali. Suara itu menggema di kegelapan malam. Suara kentongan itu tak lain berasal dari petugas jaga poskamling yang memukul kentongan untuk menunjukkan jam satu. Perasaanku mulai tak tenang. Sebentar lagi pagi akan datang. Akan ada banyak orang meronda guna membangunkan sahur. Aku harus segera mendapatkan “oleh-oleh” sebelum pagi tiba.

Aku berjalan menerobos gelap di pinggiran parit yang berada di belakang pemukiman warga. Di sini pemukimannya agak ramai. Aku harus lebih berhati-hati. Jika sampai tertangkap nasib anak-istriku akan kembali berada di ujung tanduk. Aku tidak ingin mengulangi kesalahanku ketika aksiku dipergoki warga menjelang lebaran tahun kemarin. Kawanku bekerja waktu itu terlalu gegabah dan tak cakap melihat situasi. Sekarang aku lebih suka solo karir, bekerja sendiri. Tidak perlu berdiskusi, untung ambil sendiri. Mengingat kegagalanku waktu itu membuatku sedikit ngeri. Aku nyaris mati di tangan warga. Untung waktu itu ada polisi yang menyelamatkan nyawaku.

Aku terus melangkah.

One Reply to “Malam Kelam di Tengah Kebun Tebu”

Tinggalkan Balasan