Sejarah dan Bayang-bayang Totalitarianisme Historis

Manipulasi sejarah tidak hanya berdampak pada buku pelajaran atau museum. Ia merusak ingatan kolektif bangsa.

Ketika generasi muda tumbuh dengan versi sejarah yang telah disensor atau diselewengkan, maka mereka kehilangan kemampuan untuk memahami akar ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi yang terjadi hari ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Lebih jauh lagi, masyarakat akan kehilangan referensi moral untuk menilai kekuasaan. Ketika kesalahan masa lalu dihapus, pengulangan kesalahan itu akan lebih mudah terjadi.

Dan ketika tokoh-tokoh kontroversial diposisikan sebagai pahlawan, maka narasi kepemimpinan pun akan kehilangan integritas etiknya.

Proyek penulisan ulang sejarah bisa menjadi berkah jika dijalankan dengan niat ilmiah dan kejujuran intelektual.

Tapi jika dipakai sebagai alat untuk membungkam masa lalu dan membentuk narasi tunggal demi penguasa hari ini, maka kita sedang menggali lubang untuk jatuh ke dalam bentuk baru kekuasaan yang manipulatif.

Sejarah harus dijaga agar tetap terbuka, plural, dan berpihak pada kenyataan, betapapun pahitnya. Kita tidak butuh sejarah yang indah, kita butuh sejarah yang jujur. Karena dari kejujuran itulah bangsa bisa bertumbuh, memaafkan dengan sadar, dan melangkah ke masa depan dengan kepala tegak.

Jika hari ini kita membiarkan sejarah dibentuk sepihak, besok yang dibentuk adalah cara berpikir kita sendiri. Maka jangan diam. Karena ingatan adalah hak rakyat, bukan milik negara.

Sumber :

https://www.bbc.com/indonesia/articles/c1j5l41nlywo

Sumber foto: historia.id.

Tinggalkan Balasan