Misalkan seperti ini: selama bertahun-tahun, Kerajaan Arab Saudi begitu bangga pernah menjadi bagian dari Kekhalifahan Ottoman —yang telah runtuh pada awal abad ke-20. Dan itu tercantum dalam buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah. Karena, memang, di masa keemasan kekhalifahan Islam terakhir itu, Arab Saudi menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Ottoman.
Tapi, rupanya sejarah itu dianggap tak sejalan lagi dengan entah apa rencana Arab Saudi. Maka, penguasa di sana lalu sibuk mengubah narasi buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah. Kekhalifahan Utsmaniyah, yang sebelumnya dinarasikan sebagai warisan kepahlawanan bagi dunia Islam, untuk sekarang dan entah sampai kapan diposisikan sebagai penjajah bagi bangsa penjaga dua tempat suci itu.

Jika kita membuka lembaran-lembaran buku sejarah yang mungkin sudah berbau apek atau tengik, tahun 1744 dan 1824 adalah kisah tentang Kekhalifahan Utsmaniyah yang sibuk membasmi gerombolan bandit pembuat onar di tanah suci yang dijaganya. Tapi, kini, pentarikhan yang sama pada lembar-lembar buku sejarah yang beraroma dupa dan baru ditulis dengan tinta emas menyebut itulah masa penjajahan yang dilakukan penguasa Ottoman, di mana imam terakhir mereka, Abdullah bin Saud, dibunuh tentara sang khalifah. Generasi baru Arab Saudi harus tahu bahwa Kekhalifahan Utsmaniyah, yang kini menjadi Turki, adalah sang penjarah dan penjajah.
Nun jauh di sana, penguasa Arab Saudi sedang menghapus bayang-bayang kekuasaan Kekhalifahan Utsmaniyah. Tapi di sini, di waktu yang sama, ada yang mencoba menghadirkan bayang-bayang itu melalui apa yang disebut sebagai “film sejarah”: Jejak Khilafah. Kerajaan-kerajaan di Nusantara, yang tadi dikeluhkan karena telah mengisi lembar-lembar buku sejarah yang penuh dengan kekerasan, dinarasikan sebagai bagian dari imperium Kekhalifahan Utsmaniyah.
Dunia yang terbalik, bukan? Tragedi atau komedi?

Mantab nian, opini yg sangat mendalam tentang sejarah!