Salah satu ulama perempuan yang didapuk sebagai sosok yang inspirarif dalam buku ini adalah Sitti Aisyah We Tenre Olle (hal. 57). Beliau adalah perempuan yang berkalung bismillah: kalimatullah. Salah satu bagian nukilan syairnya: kalender masehi 1855 sampai 1910//duduk gagah di kursi tahta//si bayi telah dewasa bertanju kalimatullah//si perempuan menanamkan kedamaian//terbelalak mata raffles dalam keterpesonaan.
Dari kutipan syair ini diperoleh informasi bahwa Sitti Aisyah We Tenri Olle adalah seorang pemimpin (ratu) di zamannya, di singgasananya. Raffles adalah salah satu pemimpin penjajah di zaman Belanda. Itu membuktikan bahwa perempuan di masa penjajahan memiliki peran yang signifikan untuk memperjuangkan martabat kemerdekaan.

Di akhir buku yang diterbitkan oleh Ganding Pustaka Yogyakarta ini, ada catatan akhir dengan judul “Semacam Epilog untuk Antologi Hadrah Nyai” ditulis oleh Dr KH Aguk Irawan MN. Catatan ini menyoroti buku Hadrah Nyai secara umum. “Sejarah, ulama perempuan, dan puisi, saya kira sesuatu yang amat berjarak dan terpisah, tetapi tidak demikian dalam buku Hadrah Nyai karya Raedu Basha ini.” Aguk Irawan menyoroti bahwa perempuan memiliki peran dan predikat yang tidak kalah dengan laki-laki.
Aguk Irawan memberikan catatan sejarah bahwa istri Rasulullah SAW, Siti Khadijah, adalah sosok perempuan yang tiada tandingannya. Peremuan mulia ini memberikan segalanya untuk perjuangan Muhammad. Bahkan, perempuan yang kaya raya ini di akhir hidupnya menjadi miskin karena semua hartanya digunakan untuk perjuangan suaminya, Muhammad SAW.
Hadrah Nyai telah menjadi bagian yang tak terisahkan untuk meyakinkan pembaca bahwa antara laki-laki dan perempuan tidak ada sekat posisi maupun hirarki kehidupan. Perempuan, menurut Nur Rofi’ah dalam prolognya bukan di depan atau di belakang, tetapi di samping. Berdampingan, berusaha bersama-sama untuk membangun peradaban kehidupan yang berkebaikan. Wallahu A’lam!
