Akar sejarahnya tentu panjang. Tapi tradisi politik ini lahir dari perasaan ‘balas jasa’ elite di luar organisasi Islam atas jasa organisasi Islam untuk keberlangsungan bangsa ataupun negara. Sebelum Indonesia lahir, organisasi Islam telah lahir lebih dulu sehingga memungkinkan mereka terlibat dalam proses perumusan desain negara.
Hubungan tata politik dengan elite-elite organisasi Islam terus berlangsung hingga saat ini, dan menghasilkan banyak privilese khusus bagi orang Islam di Indonesia, baik secara diskursif, keadilan sosial, akses pendidikan, pengakuan sipil, ataupun dominasi ruang.

Panorama masyarakat Islam di Indonesia adalah panorama yang nyaman. Sebagai muslim, Anda punya perlindungan politik, keamanan sosial, keleluasaan mengakses sumber daya sosial, dan privilese lainnya. Di beberapa negara dengan penduduk Islam cukup tinggi, situasinya tak senyaman Indonesia, sekalipun tata politiknya dikuasai oleh nuansa Islam.
Di Malaysia, Islam, Keraton dan Melayu adalah tiga hal yang tidak boleh disinggung. Masjid beserta dengan ‘bentuk’ Islamnya terpusat pada satu kontrol negara. Di sana, Anda mungkin boleh mendirikan organisasi Islam dengan visi progresif, tapi akan selalu ada cakupan batas gerakan. Dan bila Anda agak sedikit ambisius merealisasikan visi Anda dengan menggandeng mitra ataupun donor, maka, siap-siap kena semprot rezim.
Pada panorama seperti ini, persoalannya bukan tentang apakah Anda akan mendapatkan privilese sebagai muslim atau tidak, melainkan tetang apakah hak-hak sipil bagi identitas di luar muslim mendapat dukungan dan penguatan atau tidak dari umat muslim sebagai mayoritas.
Ketika menyoal tentang Islam dan hak sipil, maka di situ mengulas soal hak dan keadilan perempuan, pengakuan identitas dan agama liyan, dan kesetaraan akses publik (politik, pendidikan, dan sosial). Karena, advokasi dan penguatan hak-hak itu tidak bisa dipisahkan dari agenda-agenda organisasi Islam, sebagaimana di Indonesia kita mengenal Fahmina Institute, KUPI, MDMC, dan seabrek badan otonom NU ataupun Muhammadiyah.
Beberapa negara yang penulis selidiki, sedikit banyak punya perbedaan dan kesamaan dengan Indonesia, baik dari segi komposisi, segi struktur sosial, dominasi, segi politik, dan lain-lain.
Filipina misalnya, meski dari segi komposisi sosial dan dominasi politik berbeda dengan Indonesia, namun muslim Filipina mengalami tren yang sama dengan Indonesia, yakni sama-sama diterpa gerakan hijrah. Mengapa muslim di negara mayoritas Kristen seperti Filipina juga diterpa gerakan hijrah? Pertanyaan ini belum bisa penulis jawab.
