Sekelumit Panorama Masyarakat Islam

Namun, berkaca dari apa yang terjadi Indonesia, sebagian pengamat menilai bahwa gerakan hijrah di Indonesia saat ini adalah dampak laten dari intensnya penetrasi pembangunan ekonomi kapitalistik era 1980-an yang meminggirkan orang-orang muslim dan memicu kecemasan hidup era modern.

Filipina, dan beberapa negara Asia Tenggara lain, pada tahun 1980-an juga mengalami penetrasi pembangunan ekonomi yang sama intens dengan Indonesia. Namun bagaimana membuat Indonesia dan Filipina make-sense, mungkin bisa menjadi penyelidikan yang menarik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Panorama yang mirip namun berbeda pada beberapa aspek juga dapat ditemukan di India dan Nigeria. Bersama Indonesia, ketiganya sama-sama pernah mengalami kolonialisme Eropa. Beberapa organisasi Islam di India lahir sebelum India merdeka, dan memiliki visi wasatiyyah serta perlawanan terhadap kolonialisme, meskipun kini secara politik mereka kalah dominan dari Hindu sayap kanan, terlebih sejak Narendra Modi berkuasa. Nigeria juga punya organisasi Islam dengan usia serupa, tapi tetap tak memiliki daya tawar pada kuasa politik.

Ukraina dan China punya panorama yang jauh berbeda. Sebagai negara pecahan Uni Soviet, Ukraina masih mengalami isu kedaulatan domestik. Rusia era presiden Vladimir Putih mengintervensi Ukraina, salah satunya, melalui propaganda komputasi: hoaks dan berita terfabrikasi yang diproduksi di Rusia namun didistrubusi di Ukraina.

Dua organisasi Islam utama di Ukraina, yakni Asosiasi Muslim Ukraina dan Majelis Ulama Ukraina, keduanya menaruh isu kedaulatan sebagai kepedulian utama, sedangkan isu hak sipil orang-orang Islam Ukraina sebagai yang kedua. Ini jelas berbeda dengan organisasi Islam wasatiyyah di Indonesia di mana perhatian tercurah pada masalah nasionalisme, kebangsaan, dan pluralisme.

Di China, Majelis Ulama China dengan eksplisit dan lugas mengusung komunisme. Di website mereka terpampang lambang palu arit. Sebagai sebuah bangsa, setia pada ideologi dan keutuhan bersama adalah hal yang lumrah. Tetapi, panorama China adalah bantahan telak atas beberapa keyakinan dan mitos Islam dan komunisme di Indonesia yang sering terdengar aneh.

Sekelumit gambaran panorama-panorama ini menunjukkan bahwa bentuk ‘Islam’ tidak bisa dipatok secara saklek, apalagi dibumbui oleh klaim-klaim hoaks yang menegasi kenyataan sosial tertentu. Di mana pun tempatnya, penyesuaian akan selalu ada.

Dan adanya keberagaman bentuk kenyataan sosial ini sepertinya berharga untuk menjadi bahan refleksi dalam bersikap. Karena, selama ini, tidak sedikit di Indonesia yang bila ia nasionalis, maka nasionalis mentok. Bila ia konservatif, maka konservatif mentok. Keduanya berseberangan namun terikat pada satu kesamaan, yakni: memandang Indonesia sebagai poros semesta.

Tinggalkan Balasan