Selain pandai, semasa mondok Gus Dur juga dikenal usil, tak terkecuali terhadap teman-temannya sendiri. Salah satu korban keusilan Gus Dur adalah Gus Sholeh Hamid, temannya ketika nyantri di Tambakberas, Jombang. Gus yang bernama lengkap KH Moh Sholeh Abdul Hamid ini, akhirnya menjadi salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Sejak kecil Gus Sholeh biasa menghafal surat-surat pendek Al-Qur’an pada malam hari sambil mengelilingi masjid pesantren. Ia berangkat dari menara dan kembali ke menara lagi sembari berulang-ulang menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kebetulan waktu itu yang dihafalnya adalah surah at-Takwir.

Sementara Gus Dur sudah mengetahui kebiasaan kawannya ini sejak lama. Tanpa sepengetahuan Gus Sholeh, Gus Dur memasuki menara tersebut sebelum Gus Sholeh memulai hafalannya. Setelah beberapa kali mengitari masjid, Gus Dur menyadari bahwa sesampainya di menara, ayat yang dibacakan Gus Sholeh adalah fa aina tadzhabun (mau ke mana?). Dan benar saja, waktu itu Gus Sholeh membacakan ayat tersebut. Dari balik menara terdengar suara Gus Dur menyahut, “Ila WC, Gus.” Sontak, Gus Sholeh terperanjat (hlm. 144).
Selain itu, Gus Dur juga pernah usil kepada ustaz pimpinan pondok di Tambakberas bernama Ustaz Chudlori (bukan Kiai Chudlori Magelang). Alkisah, terdapat seorang santri nakal yang melanggar peraturan pesantren, tetapi tetap tidak mau mengakui kesalahannya. Kemudian saking geramnya Gus Sholeh memukul santri tersebut, namun orangtuanya tidak terima dan melaporkan ke polisi.
Selaku pimpinan pondok, Ustaz Chudlori mengajukan diri untuk ditahan. Ia menutupi fakta bahwa Gus Sholeh yang memukul santri tersebut. Alhasil, Ustaz Chudlori ditahan di penjara selama 15 hari, namun dibebaskan oleh Kiai Fattah Hasyim. Meski sebentar, pengalaman di sel tahanan membuat Ustaz Chudlori trauma.
Gus Dur yang mengetahui bahwa Ustaz Chudlori trauma dengan polisi, lantas berbuat usil kepadanya. Waktu itu Ustaz Chudlori masak bareng dengan santri-santri lain. Setelah masakan siap santap, tangan-tangan santri, termasuk tangan Ustaz Chudlori, telah siap untuk makan besar. Saat Ustaz Chudlori siap melahap, tiba-tiba dari kamar pondok, Gus Dur berteriak keras menyebut polisi, “Polisi, polisi, polisi.” Spontan, mendengar kata polisi, Ustaz Chudlori lari terbirit-birit mencari tempat sembunyi (hlm. 146).
Kisah keusilan Gus Dur tak hanya sampai di sini. Buku ini juga mengisahkan keusilan Gus Dur saat belajar di Mesir yang mengelap gelas untuk minuman tamunya (Gus Syukri) dengan celana dalam, kemudian diaduk pakai sikat gigi. Dan ketika di Baghdad, Gus Dur mendatangi penjual ikan meminta 20 kepala ikan besar untuk dimasak kari buat menu makan bersama 20 temannya dengan melobi ke penjual ikan, “Saya memelihara 20 anjing.”
