gugur daun diantar angin
tanah menerima berat hati
menguning rinduku dijauhi ingin
kata-kata terlontar tak lagi berarti
pada potret yang kesekian
bunga menolak untuk mekar
aku getir disadap bimbang
cintaku mati kehilangan akar

kekasih, aku kehilangan diri
menganggap puisi sebagai nabi
karena mencipta senyummu
ibadah terbaik bagi diriku.
Cabeyan, 2021.
SURAT KEPADA ENGKAU
setelah perseteruan antara Israel dan Palestina reda
aku akan memintamu sebagai bunga yang selamanya
tumbuh di mataku sebelum pagi memuntahkan matahari.
karena luka sufi di dadaku ini nyaris mematikan segalanya.
tapi sebelum kaki menghendaki tapak jalan rumahmu
katakan padaku, mahar macam apa kau inginkan:
tujuh belas purnama bertengger di halaman panjang
sedia menjadi permata bagi cincin matahari yang kucipta
dari puisi soneta Pablo Neruda.
