***
Petang itu, ketika Ipang baru saja selesai salat maghrib, Mulki mendatangi kamar Ipang dan duduk di sebelahnya, pada sisa hamparan sajadah yang menyentuh tembok. Kedatangan Mulki yang tiba-tiba, membuat Ipang sedikit panik karena ia tak sempat mengamankan sebotol air selawat yang ditaruh di depannya. Tapi Mulki tak beraksi apa-apa, Ipang hanya mendengar napas Mulki yang teratur pertanda ia tetap duduk tenang dan tidak ada tanda-tanda untuk marah. Ipang terus membaca selawat dengan pelalafalan yang lirih. Kesunyuian setelah maghrib seolah bentang laut tenang untuk melarung sampan rindunya kepada Nabi Muhammad.

“Pang,” tangan Mulki menyentuh pelan bahu Ipang.
“Iya, Om.”
“Hari demi hari rasanya aku tidak semakin nyaman hidup seperti ini. Usia terus berkurang dan sudah pasti mendekati mati,” Mulki menghentikan pembicaraannya. Ipang masih terdiam, tak berani merespons karena belum tahu ke mana arah pembicaraan Mulki. Keduanya diterpa senyap.
“Aku ingin kamu kukembalikan kepada orang tuamu, begitu juga anak buahku yang lain, semua akan kukembalikan kepada orang tuanya,” ungkap Mulki sembari memijat bahu Ipang pelan-pelan. Kata-kata Mulki membuat Ipang terperanjat antara bahagia dan tak percaya.
“Lalu, Om Mulki akan mau ke mana?”
“Aku juga rindu keluarga di kampung. Aku ingin tinggal bersama anak dan istri, serta ingin hidup wajar dengan bekerja sebagaimana mestinya seperti dulu.”
Suara Mulki agak bergetar seperti menahan tangis. Ipang hanya membisu, bibirnya rapat terkatup, kecuali hanya jemari tangan kanannya yang meremas-remas botol di depannya perlahan hingga menimbulkan bunyi yang ber-kriyek-kriyek.
Ipang teringat pada apa yang ia lakukan setiap subuh, sesaat sebelum pergi mengemis; senantiasa tak melewatkan kesempatan untuk mericikkan air selawat itu ke dalam air minum Mulki dalam guci keramik. Ipang yakin bahwa sikap lembut Mulki kemungkinan besar karena pengaruh dari air selawat.
***
Ipang tak pernah menduga, sepasang kakinya kembali bisa menapak halaman rumahnya seperti pagi itu. Meski ia harus menyunggi dan memikul kardus berat sekitar setengah kilometer dari jalan raya menuju rumahnya, tapi terasa tak ada beban sama sekali oleh sebab rasa kebahagiaan yang membuncah. Orang-orang menyapanya dengan nada penuh keceriaan, seolah mereka mendapati kembali sebutir mutiara yang pernah hilang.
Kerabat dan tetangganya berdatangan, menyapa dengan isak tangis haru. Ipang pun tak bisa menahan air mata harunya, terlebih setelah mencium telapak tangan dan memeluk kedua orangtuanya. Beberapa saat kemudian, Ipang mengeluarkan sebotol air selawat dari saku bajunya. Ia mengangkat botol itu agak tinggi setara wajahnya. Ia ingin melihat bayangan wajahnya yang bahagia di bening air dalam botol itu. Tapi sia-sia.
