Selawat dan Segenggam Bu’u’

Di Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep, Madura, dulu, saat saya masih aktif nyantri, Jumat adalah hari yang ditunggu-tunggu. Sejak Kamis sore kami sudah bersiap-siap untuk melewati waktu yang paling menyenangkan, sangat mengasyikan, dan begitu menggembirakan. Hal itu disebabkan karena Jumat merupakan waktu santuy bagi para santri karena kegiatan pondok berjeda di hari tersebut.

Kebebasan yang terbatas, begitulah kira-kira kaki menyebutnya. Sebab, meskipun kami bebas, tetapi tetap dalam batasan-batasan aturan pesantren. Seperti tidak boleh meninggalkan area pesantren tanpa adanya surat izin dari pengurus.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebenarnya tidak sulit jika hanya ingin keluar area pesantren dalam waktu tidak boleh lebih dari 24 jam. Karena pada saat itu, keluar lingkungan pesantren dengan waktu sebentar boleh seizin pengurus, tidak ke pengasuh. Maka bagi santri yang rumahnya dekat biasanya pulang sebentar (toleransi sehari semalam), dan hanya minta izin ke pengurus pesantren.

Ada “banyak” hal yang dapat dilakukan santri pada hari bebas ini. Seperti menghidupkan radio. Saat itu, pesawat radio merupakan barang mewah. Tidak banyak santri yang mempunyai barang yang pernah mengalami kemajuan dengan acara sandiwara radio Saur Sepuh ini. Kemudian kami juga boleh memasak (dulu jarang santri yang ngekos) dengan waktu yang cukup luas. Juga dapat melakukan kegiatan musyawarah, kelompok kecil tadris yang diadakan secara mandiri, serta berolah raga semacam bulu tangkis, sepak bola mini, dan lain sebagainya, termasuk jalan-jalan (jogging).

Tinggalkan Balasan