Selawat dan Segenggam Bu’u’

Selepas doa acara selawat, kami duduk melingkar menunggu pembagian (dhu’uman) segenggam bu’u’. Benar, memang benar-benar segenggam dari tangan santri senior yang membagikannya. Kami para santri duduk menunggu antrean sambil menadahkan kedua tangan. Jika beruntung, kedua tangan kami penuh (ronto), jika kurang beruntung, karena cara pengambilannya dengan kira-kira, maka kami dapat lebih sedikit.

Jika dikaitkan dengan masa pandemik Covid-19 saat ini, tentu saja pembagian bu’u’ dari satu tangan ke tangan lainnya sangat tidak recomended. Namun saat itu virus ini masih belum ada, dan kami menikmati bu’u’ dengan rasa gembira dan bahagia yang luar biasa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tidak semua santri membaca selawat. Itu artinya yang tidak baca selawat tidak dapat bu’u’. Apakah mungkin ada yang antre bu’u’ meskipun tidak baca selawat? Sangat-sangat mungkin sekali. Biasanya santri seperti ini disebut lodhang. Yaitu, santri yang memiliki tingkat kelucuan yang cukup tinggi serta kondisi mental yang cukup kuat (ta’ tao ka todhus). Tentu saja santri yang semacam ini tidak banyak, tapi tidak dapat dibilang tidak ada.

Itulah sebuah kisah yang sulit terlupakan, menjadi kenangan sepanjang waktu. Tentu saja ada kisah-kisah menarik dari berbagai pesantren yang tersebar di Nusantara. Kisah-kisah tersebut dapat dijadikan inspirasi, dipetik hikmah dan manfaatnya, untuk dijadikan kenangan dan bahkan kebaikan dalam hidup. Santri dengan segala keunikan dan kekhasannya, memiliki kisah cerita sebagai bagian dari santri way untuk dituliskan dan dikenangkan.

Tinggalkan Balasan