Setelah kami bertiga puas dengan ber-foto-foto selfie dan narsistik, kami pun teringat saat masa–masa dahulu, di kala kami masih remaja dan mengalami masa-masa pubertas, kerap bersemangat sekali untuk mengabadikan wajah-wajah polos kami pada suatu momen penting seperti ulang tahun, acara khitobah, atau hanya just for fun belaka. “Santri juga mengalami pubertas,” itu kalimat yang muncul dari mulut kami saat mengenang hal itu, lalu diiringi tawa menggelegar.
Kala waktu mondok dulu, saat kami ingin berfoto, kami harus menyewa kamera atau dulu disebut dengan “Kodak”. (Meski istilah Kodak itu sendiri adalah nama merek sebuah kamera produksi sebuah perusahaan Amerika Serikat, yang kabarnya saat ini mengalami penurunan penjualan karena ketatnya persaingan kamera digital). Atau kami para santri pun kerap mendatangkan kameraman dari studio foto untuk keperluan itu.

Selain itu jika memungkinkan, kami biasanya berembuk bersama teman-teman santri putri yang lain, baik teman-teman sekamar ataupun lintas kamar untuk memohon izin kepada pengurus pondok atau kepada pengasuh untuk pergi ke studio foto, dengan alasan mau mengambil foto atau pemotretan untuk keperluan ijazah, kartu pondok/santri, hingga kartu perpustakaan dan alasan-alasan lainnya.
Jika tidak mendapat izin, maka kami biasanya nitip kepada santri putra atau sopir taksi untuk membelikan roll film. Namun jika mendapat izin, kami pun bersama-sama dengan didampingi pengurus pondok, berangkat naik taksi untuk mendatangi studio foto. Waktu itu, studio foto yang bagus hanya ada di daerah Prenduan, dekat Pondok Pesantren Al-Amin. Dan ada juga di tengah-tengah kota Sumenep, nama studionya KONICA Film/ Fuji Film dan Shinta Carolina Film, dengan studio yang cukup besar dan fasilitas lengkap yang tentunya jauh lebih mahal.
Kami juga mengumpulkan paling sedikitnya sepuluh orang teman untuk join dan ambil bagian dalam pemotretan atau pengambilan foto. Karena biasanya pihak studio tidak mau menyewakan kameranya atau mendatangi kami jika pesertanya kurang dari 10 orang. Alasannya rugi transportasi.
