“Selfie” Santri Tempo Dulu…

Waktu itu, tidak ada yang namanya foto selfie atau narsisme seperti sekarang. Biasanya pihak studiolah yang melakukan shoot untuk pemotretan atau pengambilan gambar kami. Kami juga tidak bisa seenaknya bebas berpose, karena pihak studio yang mengatur semuanya. Mulai dari posisi badan, kepala, tangan, kaki, hingga tatapan mata yang diatur sedemikian rupa. Sehingga tidak heran jika hasil foto-foto jadul (jaman dulu) atau zaman old, jarang tersenyum apalagi tertawa, karena dianggap tidak sopan. Di tambah rasa sedikit kesal karena posisi kami yang kadang serba salah di mata kameraman dan tidak kunjung dipotret.

Mengingat hal itu, kami bertiga pun auto tertawa sampai mengeluarkan air mata saat dulu kami harus urunan untuk membeli satu roll film yang dulu kalau tidak salah bisa dipakai untuk kurang lebih foto 35 kali. Kalau kamera girl-nya canggih, kami bisa mendapatkan foto-foto yang lumayan keren dan cerah tanpa zonk. Meminjam sana-sini kostum dan wardrobe juga merupakan drama yang cukup complicated. Dari satu kamar ke kamar santri yang lain kami lakukan demi mendapatkan pinjaman sepatu, topi, bandana payung cantik dan lain sebagainya demi menunjang penampilan kami saat pemotretan. Alamak!

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pihak pondok sebenarnya memperbolehkan dan sah-sah saja santri melakukan foto-foto dan menyetak foto, dengan catatan santri tidak boleh membuka aurat, tidak boleh berpakaian mini dan ketat (press body) ataupun memakai make up berlebihan. Hal itu mengajarkan kami, lebih-lebih pada saat ini dimana media sosial berkembang pesat, agar dalam meng-upload foto hendaknya tetap sopan dan tidak mengumbar aurat serta memamerkan perhiasan secara berlebihan.

Setelah jadi, foto-foto tersebut lalu kami simpan di album foto atau dimasukkan ke dalam pigura atau bingkai foto lalu dikaitkan di paku yang tertancap di dinding-dinding kamar pondok atau dibawa pulang ke rumah saat liburan tiba. Hal itu cukup menciptakan feeling good dan kepuasan tersendiri saat melihat foto-foto kami berjejer rapi. Kami juga saling menukar foto dengan teman-teman santri yang lain sebagai kenang-kenangan.

Pada kenyataanya, kehidupan santri di pondok-pondok pesantren tidak hanya berkutat pada rutinitas kesantrian semata seperti ajian kitab, sorogan, ngasok ngaji Al-Quran, setoran hafalan kitab Alfiyah dan lain sebagainya. Namun kami juga mempunyai sisi-sisi hiburan yang cukup berarti dan menyenangkan seperti salah satunya misalnya acara berfoto-foto ria dengan tetap sopan dan menjaga nilai-nilai kesantrian.

Tinggalkan Balasan