Sesi inti acara, yang dipandu dengan penuh wawasan oleh Angin Kamajaya, adalah momen paling mencerahkan. Sebagai pegiat sastra yang telah lama berkecimpung dalam dunia literasi, ia tidak hanya membacakan puisi, melainkan juga menafsirkan dan mengaitkannya dengan konteks sejarah dan budaya yang memengaruhi sang penyair. Angin Kamajaya membedah puisi-puisi Usmar Ismail dengan penuh semangat, menjelaskan bagaimana setiap baris mencerminkan perjalanan hidup dan pemikiran sang seniman.
Diskusi kami berpusat pada tema-tema yang sering muncul dalam puisi Usmar Ismail, seperti isu-isu sosial, kemanusiaan, dan eksplorasi keindahan bahasa. Melalui bimbingan Angin Kamajaya, kami diajak untuk melihat puisi bukan hanya sebagai kumpulan kata-kata indah, melainkan sebagai sebuah cermin yang merefleksikan realitas, perjuangan, dan jati diri bangsa. Sesi ini berhasil membuktikan bahwa sastra memiliki kekuatan untuk menjadi medium refleksi yang kuat, menawarkan wawasan baru tentang makna kehidupan.

Kehangatan dan interaksi dalam Semaan Puisi ini terasa sangat istimewa. Sebelum sesi tanya jawab, setiap peserta diberi kesempatan untuk membacakan satu karya puisi Usmar Ismail. Momen ini menjadi lebih dari sekadar pembacaan; ini adalah sebuah perayaan di mana setiap orang bisa menghidupkan kembali puisi-puisi tersebut dengan interpretasi dan emosi pribadi.
Mendengarkan beragam suara yang membacakan puisi yang sama menciptakan atmosfer yang kaya akan penghormatan dan kekaguman. Puisi-puisi itu seolah hidup kembali, tidak hanya melalui kata-kata sang penyair, tetapi juga melalui suara-suara kami yang hadir.
Setelah sesi pembacaan yang penuh inspirasi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang sangat interaktif. Saya dan peserta lain tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya langsung kepada Angin Kamajaya.
