Patut dimaklumi, pengalaman saya menekuni dunia kepenulisan hampir empat tahun di koran-koran nasional hingga menerbitkan beberapa buku, tidak bisa dijadikan mata pencaharian utama. Menulis kurang mendapatkan ruang secara komersial ketika minat literasi masyarakat Indonesia masih rendah. Namun setidaknya penulis diingatkan dengan kutipan legenda Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Ketika mengamati perkembangan website duniasantri.co, saya melihat banyak penulis muda dan pemula yang cukup berkualitas menyusun artikel. Dalam hal ini, duniasantri.co menjadi wadah eksperimental santri belajar berliterasi. Mengembangkan minat baca dan melatih gaya menulis yang menarik.

Ketika ada pandangan miring mengenai kualitas akademik santri dibandingkan yang menempuh pendidikan formal, duniasantri.co membuka mata dunia bahwa santri juga punya kualitas menulis, bersastra, dan menyampaikan sudut pandang unik melihat realitas kehidupan beragama dan bernegara. Ini mengingatkan peran santri dalam proses kemerdekaan hingga menjadi benteng NKRI hingga saat ini.
Meskipun pondok pesantren punya dua jenis pembelajaran (klasik dan modern), namun santri memiliki tujuan yang selaras menganai konsep kebangsaan dan sikap moderasi beragama. Santri adalah potensi negara dilihat dari sudut pandang akademis, sosial, dan politik. Bahkan banyak politikus yang aktif menghibahkan diri di lingkungan pondok pesantren agar bisa mengantongi banyak suara di pemilu.
