Semarak, Peringatan Hari Anak di Makara UI

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Makara Art Center Universitas Indonesia (MAC UI) Depok, Kamis (23/7/2026) berlangsung semarak. Sekitar 500 anak dari SD, SMP, SMA, dan anak penyandang disabilitas terlibat dalam berbagai kegiatan seni, budaya, dan edukasi.

Peringatan HAN 2026 tersebut diselenggarakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerja sama dengan Direktorat Kebudayaan UI.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Peringatan Hari Anak Nasional ke 42 dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan aktivitas edukatif, antara lain penampilan grup kulintang anak, dolanan anak nusantara, live rappelling anak, tari anak, Kila (Kita Cinta Lagu anak Indonesia), dan Pagelaran Wayang Kulit Anak. Antusiasme peserta sangat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung.

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak Veronica Tan, Wali Kota Depok Dr. Supian Suri, Perwakilan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kebudayaan, Komisi Perlindungan Anak (KPAI), dan Persatuan Insan Kolintang (PINKAN) Indonesia yang mengerahkan grup-grup Kolintang dari dari jenjang SD, SMP, SMA, sampai orang tua.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri menekankan pentingnya bijak memakai teknologi serta pentingnya ruang aman dan suasana positif dalam lingkungan anak.

“Anak-anak harus berani mengatakan tidak terhadap segala bentuk tindakan maupun percakapan yang melanggar batas privasi mereka. Dukungan pemerintah daerah sangat penting dalam menghadirkan ruang aman, karena lingkungan yang positif sangat menentukan proses tumbuh kembang mental serta kebahagiaan anak,” ungkapnya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Direktur Kebudayaan UI, Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, menyampaikan bahwa Peringatan Hari anak Nasional bukan hanya seremonial.

“Peringatan Hari Anak bukan hanya seremonial. Tetapi menjadi momentum refleksi untuk memberikan ruang untuk anak-anak bereskpresi, berkreasi, dan tumbuh secara optimal,” ujarnya.

Menyitir Ki Hajar Dewantoro, Dr. Ngatawi Al-Zastrouw menyatakan bahwa pendidikan adalah proses pembudayaan yang merupakancara paling efektif dalam belajar.

“Pendidikan sejatinya adalah proses pembudayaan. Seni dan budaya menjadi cara paling efektif untuk membentuk karakter manusia. Anak-anak harus berkebudayaan dan mereka mempunyai hak untuk bermain, karena melalui bermain mereka belajar, mengembangkan kreativitas, memahami cara hidup yang sehat dan mempertajam kepekaan rasa,” jelasnya.

Selain pertunjukan seni, peringatan Hari Anak Nasional juga diadakan sarasehan budaya bertema peran seni budaya sebagai sarana pembentukan karakter kebangsaaan untuk anak Indonesia.

Diskusi menghadirkan para budayawan dan Akademisi, Jose Rizal Manua, Adolf Malantang, Dr. Eko Handayani S.Psi., M.Psi., Psikologi, dan Dra. Eko Novi Ariyanti Rahayu Damayanti, M.Si.

Rangkaian acara ditutup dengan pagelaran wayang kulit anak berlakon: Sang Gatotkaca sebagai simbol keberanian, keteladanan, dan semangat generasi muda Indonesia.

Tinggalkan Balasan