Senggotan

Hingga generasi yang lahir pada dekade 1960-an atau 1970-an, terutama yang tinggal di daerah perdesaan atau pedalaman, orang masih mengenal apa yang disebut senggotan. Ini alat untuk mengambil air dari kedalaman sumur dengan sistem katrol. Ia disebut sumur senggot —jika masih ada, orang sekarang menyebutnya sumur tradisional.

Peralatannya biasanya terbuat dari beberapa batang bambu. Dua batang bambu akan dipancangkan di tanah agak jauh dari sumur untuk dijadikan tiang penyangga. Sebatang bambu lagi, biasanya berukuran lebih panjang, dijadikan galah dan dikaitkan dengan bambu tiang penyangga. Pada galahnya, di sisi yang jauh akan diberi bandul pemberat. Bandulnya bisa berupa batu, batu bata, atau kayu. Timba akan diikat pada ujung lainnya, yang mengarah ke tubir sumur. Jadilah ia sumur senggot.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dengan cara begitulah orang-orang dulu mengambil air dari sumur, kemudian disimpan di jeding atau bak mandi. Jika sumurnya dalam, maka kita akan bersusah payah untuk sekadar memasukkan timba ke dasar sumur, karena biasanya bandul pengungkitnya sangat berat. Seringkali galah pengungkitnya patah karena lapuk atau tak kuat.

Di rumah-rumah penduduk, di masjid-masjid atau langgar-langgar, juga di pondok-pondok pesantren, pada masa-masa dulu menggunakan sumur senggot seperti ini. Maka, ketika jam-jam orang harus mandi atau bersuci, kegiatan mengisi jeding atau bak mandi sudah seperti “perayaan” tersendiri. Ramai nian. Orang bergantian, bergotong royong, menimba air untuk mengisi bak mandi, jeding, atau padasan (tempat wudhu) di langgar-langgar, masjid-masjid, atau pesantren. Orang harus berkeringat dulu sebelum mandi atau bersuci.

One Reply to “Senggotan”

  1. Kalau di rumah saya, senggotan itu bukan sistem katrol, tp sistem pengungkit. Sistem katrol biasanya hanya menggunakan tali (tampar dalam bahasa Madura) dengan katrol tetap yang dipasang di atas sumur dg dua tiang/pancang. Dan model tradisional seperti ini saat ini sudah sangat jarang untuk ditemukan, karena sudah diganti dengan sistem mesin air. Jadi, gotong royong sebagaimana dulu kita alami sudah semakin menghilang.

Tinggalkan Balasan