Jangan-jangan, generasi milenial, lebih-lebih yang tinggal di kota-kota besar nan modern, belum pernah mengalami rasanya menimba air dari sumur.
Mau mandi tinggal memutar atau memencet tombol kran, air akan muncrat dari shower dan mengguyur tubuh. Mau wudhu atau mencuci piring, juga tinggal memutar kran. Mau cuci kaki atau cuci tangan atau membasuh muka, juga tinggal memutar kran. Pendeknya, kita butuh air untuk keperluan apa saja, tinggal memutar kran. Beres!

Bahkan, seringkali kita tak tahu dari mana sumber airnya, atau jaringan pipanya. Yang kita tahu pasti hanyalah letak krannya. Bahkan, bisa jadi di antara generasi milenial malah ada yang tak pernah tahu atau melihat yang namanya sumur, atau timba, karena sejak orok sudah diguyur air hanya dari kran. Wajar jika kemudian ada yang belum pernah mengalami rasanya menimba air sendiri.
Tapi bayangkanlah orang-orang yang hidup di masa lalu, ketika masih belum ditemukan mesin pemompa air atau jet pump. Atau saat jet pump itu belum sampai pada masyarakat kita. Untuk memenuhi kebutuhan akan air merupakan persoalan tersendiri.

Kalau di rumah saya, senggotan itu bukan sistem katrol, tp sistem pengungkit. Sistem katrol biasanya hanya menggunakan tali (tampar dalam bahasa Madura) dengan katrol tetap yang dipasang di atas sumur dg dua tiang/pancang. Dan model tradisional seperti ini saat ini sudah sangat jarang untuk ditemukan, karena sudah diganti dengan sistem mesin air. Jadi, gotong royong sebagaimana dulu kita alami sudah semakin menghilang.