Senja di Kebun Kapulaga

“Aku belum percaya anakku pergi secepat itu.”

“Kematian tak mengenal waktu,” suaminya itu menyahut sembari menyeruput kopi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Padahal dia sudah dinanti masa depan yang indah. Kepintarannya akan menuntun dia menemukan jati diri. Dia belum seharusnya mati.”

“Lalu?”

“Kematiannya tidak lazim.”

“Apa makasdmu?”

“Mungkinkah pemuda terdidik seperti dia melakukan bunuh diri? Untuk apa? Tak ada masalah yang ditanggungnya.”

“Bisa saja dia baru diputus pacarnya,” sahut Harjo, suaminya.

“Semua gadis memujanya. Tak mungkin dia patah hati. Kalau membuat hati orang lain patah, bisa jadi. Tapi dia tak sejahat itu pada perempuan. Aku tak pernah mengajarinya menghianati cinta.”

“Siapa tahu membuat hati orang lain patah menjadi penyebab hatinya gundah lalu hilang kewarasan,” Harjo menyahut.

“Kau ngarang.”

“Siapa pula yang bilang bunuh diri? Orang-orang bilang dia keracunan obat tikus, kau tak percaya?” Harjo memutar balik pernyataannya.

“Ah, aku tak percaya itu!” Surayut memekik penuh emosi.

“Kau tak lihat puntung rokok itu? Dia menyentuh racun tikus di selokan, atau pojok ladang, atau entah di mana aku tak tahu, lalu tangan kotornya menyentuh rokok. Dan ternyata kepintarannya tak mampu menolak racun yang menjalar di tubuhnya,” suami Surayut itu menyingkap kronologis tragis yang menjadi musabab kematian anak tirinya.

“Sejak kapan anakku merokok??? Kau sungguh mengada-ada!”

“Sejak detik ketika malaikat maut mengincar nyawanya!”

“Kau gila!”

Mereka kemudian membisu. Menemani senja temaram yang juga bisu disentak angin sore.

“Minumlah dulu tehnya, Yut. Kau akan merasa tenang.”

“Aku tak akan tenang sebelum tahu penyebab kematian anakku. Semua orang bungkam. Terlalu mudah percaya pada keadaan atas kematian Arjuan.”

One Reply to “Senja di Kebun Kapulaga”

Tinggalkan Balasan