“Minumlah dulu. Nanti akan kutunjukkan,” lelaki itu meremas jemari Surayut. Perempuan paro baya itu perlahan-lahan menyesap teh hangat yang tersaji di depannya.
“Kenapa kau begitu memaksa minum pada orang yang tak haus?”

“Teh tidak hanya untuk menghilangkan dahaga, tapi juga rasa cemas. Di rumah tadi kau tak meminumnya.”
Di dangau tepi ladang itu terdapat tempat beristirahat. Harjo mengajak istrinya rehat sembari menatap langit senja di kejauhan. Dan perlahan-lahan akhirnya Surayut menyeruput teh dalam botol itu.
Petang menerkam kebun itu. Suasana kian lengang. Lampu-lampu yang terpasang di dekat dangau telah menyala, menyingkap gelap yang menyelimuti rimbun pepohonan. Suami istri itu melangkah pelan menuju tengah perkebunan. Daun-daun kapulaga menyapu wajah dan tubuh mereka. Surayut semakin lemah, ia dipapah erat oleh suaminya.
“Kau ajak kemana aku?” tanya Surayut.
“Bukankah kau ingin melihat proses kematian anakmu?”
Mereka melangkah kembali, ditemani bara di ujung rokok lelaki itu. Di kanan dan kiri mereka berkerliplah kunang-kunang yang beterbangan mengiringi gemeretak langkah tatkala menginjak batang-batang kapulaga. Sebagian hinggap di dedaunan dan yang lain menghilang di kegelapan.
“Berhentilah. Perutku sakit sekali. Aku sudah tak mampu ber…,” ucap perempuan itu dengan langkah gontai.
“Bertahanlah. Bukan di sini tempat kematianmu.”
Mereka terus melangkah. Batang-batang kapulaga roboh terinjak kaki-kaki yang berjalan meninggalkan jalan setapak itu. Mereka berjalan tak tentu arah. Menerobos dahan dan menginjak-injaknya. Mulut Surayut mulai berbusa. Meleleh di ujung bibirnya. Busa-busa itu kemudian menetes di dedaunan dan berceceran di jejak langkah mereka.
“Kau akan segera tahu bagaimana kematian menghampiri anakmu.”
Angin sore berkesiutan menggoyang dahan dan dedaunan. Tubuh Surayut menggigil dan mulai berkelejotan. Ia kini dibopong suaminya.
“Seperti ini … pula ka..u bu…nuh anak..ku?”
Lelaki itu tertawa.
“Un…tuk a… pa?” desis Surayut.
Lelaki itu melempar tubuh Surayut ke tengah rimbun batang-batang kapulaga. Menimbunnya dengan daun dan dahan-dahan tanaman obat itu serta beberapa helai pelepah pisang.
“Kau kira apa untungnya aku menikahimu, perempuan tua, kalau semua hartamu kau habiskan untuk berobat dan menyekolahkan anakmu?”
Harjo beringsut ke dangau, meninggalkan mayat perempuan yang pernah dia nikahi itu. Dia menyeringai. Hamparan kapulaga yang menyimpan banyak harta itu akan menjadi miliknya. Dia kemudian pergi, meninggalkan asap rokok serta mayat itu di rimbun dedaunan.

moral value di “Kapulaga”mu, butuh mengernyitkan dahi. butuh berulang membaca, perlu mengulas untuk menangkap yang tersirat. cerpenmu ber”kelas”, sam …