“Aku sudah tak tahan lagi,” ucapnya waktu itu lewat panggilan suara.
“Apa salah bila menahan rasa untuk beberapa hari. Saya hanya ingin tenang, agar ini cepat selesai. Agar kita bisa lebih siap lagi.”

“Oh, berarti ini salahku?! Ini maumu? Baik. kita sudahi saja,” dia menutup teleponnya dari seberang.
Aku tak tahu kenapa Aisy, pacarku itu, tiba-tiba marah. Di desa ini memang tak ada sinyal yang memadai. Meskipun ada paket data sisa pemberian sepupuku, tak selalu ada waktu untuk membalas chatnya. Dan juga tak selalu ada uang untuk membeli paket datanya. Ah, apalagi ini, Gusti. Tak cukupkah dengan semua permasalahanku yang ada di kota. Biarkan aku sejenak meraih tenang di pelosok desaku ini.
“Kus…,” itu suara ibu.
“Iya.”
“Nanti coba bantu pakde angkat gabah. Barangkali dapat jatah.”
“Tapi nanti jadwalnya ngaji ke kuburan.”
“Sudah jangan bantah! Besok juga bisa. Bapakmu tak akan ke mana-mana.”
“Kata pakde besok juga tak apa-apa.”
“Sudah sekarang saja! Kita butuh uang!”
Sudahlah, saat para perempuan marah mereka tak akan lagi mendengar penjelasan apa pun.
Seusai maghrib. Setelah membersihkan badan dari berbagai lumpur. Lalu rutinitas mingguan di kampungku berjalan. Sebatang rokok dari tahlilan kusulut di belakang rumah. Tempat biasa bapak dulu memotong ayam untuk dagangan. Tugasku tinggal sedikit lagi, tapi para pembimbing hilang bak ditelan bumi. Yang kuanggap bisa menjadi teman hidup seterusnya juga tak ada kejelasannya. Semua alasan untuk melanjutkan proses ini juga menghilang, dipanggil Tuhan. Dan keluarga, ah iya. Aku masih punya itu….
Tapi sejak kapan ibu pernah mendengar ceritaku. Bahkan hingga tak terhingga aku menceritakannya. Tak ada jawab yang sama sekali memuaskan. Kepulan asap itu sudah kuembuskan beberapa kali. Batangnya telah terbakar setengah. Pada detik kesekian aku membaca Al-fatihah.
