“Kenapa lagi?”
“Sudahlah, mungkin macul sawah lebih baik sekarang.”

“Lah bukannya sedikit lagi lulus?”
“Iya, tapi semua semakin rumit.”
“Apa semua lelaki harus menahan semua derita sendiri?” tanyaku resah menghadapnya.
“Sebagian besar, karena itulah alasan dada kita lebih bidang daripada wanita.”
“Kita ini hanya sebuah wadah. Atas segala hal telah kita korbankan. Semua pujian dan kemuliaan hanya milik mereka yang nyata menampakkan diri. Dan tugas bayangan hanya sebagai pelampiasan bila yang nampak melakukan kesalahan,” lanjutnya.
“Pak, saya lelah. Saya seperti sebatang kara. Apa dulu jadi bapak seperti ini?” tanyaku lagi dengan lelah.
“Kita ini bagai kota, dan wanita seperti musim. Lalu orang-orang di sekitar kita, layaknya orang-orang yang hidup dalam kota.”
“Hah?” tanyaku sambil meliriknya dengan mengangkat sebelah alis.
“Kita ini kota, Yang kokoh menyediakan segalanya. Bagi musim, kita harus bisa bertahan dan membentuk keselarasan dengan dia. Namun orang-orang tak akan pernah cukup dengan kota. Mereka akan menuntutnya agar lebih sempurna lagi.”
“Saya tetap tak mengerti, pak.”
“Jadilah kota yang kuat, tanpa memikirkan apakah kau dianggap atau tidak. Yang jelas, tanpa kota orang-orang kehilangan arah.”
Aku melayangkan pertanyaan terakhir, apakah lelaki tak boleh letih dengan bebannya. Sebelum dia pamit, dia mengatakan bahwa kota hanya bisa bergantung pada yang merancangnya. Seperti kita yang harus bergantung pada perancang kita. Itu pesan terakhirnya. Sebelum aku membuka mata. Membuyarkan imajinasi yang seakan-akan berada di samping nisan bapaknya. Dengan senja, sinar keemasan, dan lalu bapaknya menjawab semua curahan resah miliknya.
