Sepasang Mata Gagak

“Sekarang,” lontar Dul Karim sembari mengenakan kembali capilnya. Peluh masih membasah di kaus cokelat kumal bergambar wajah caleg dua tahun lalu. Giliran Ernest yang melihat gelagat aneh sepupu dari istrinya itu. “Climb up the mountain!” tukasnya dalam bahasa yang lebih ganjil dan yang pasti mengkhianati lidahnya sendiri.

Ernest yang sedari tadi berdiang menjaga api dalam tungku —yang biasa digunakan untuk menghangatkan air atau membakar singkong— malah meraih knop tutup panci daripada menanggapi ucapan Dul Karim. Asap menjelanak menerpa wajah keduanya. Para buruh tambang kapur sudah tidak menggunakan kompor gas lagi. Sebelumnya, ada satu buah tungku kompor gas lengkap dengan gas melon. Namun, begitu kondisi sudah tidak memungkinkan, mereka kembali memakai tungku dan kayu bakar sebagaimana dilakukannya dulu untuk sekadar menghangatkan nasi atau menjerang air agar bisa sedikit menghemat pengeluaran.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“You want coffee?” tawar Ernest.

Dul Karim mengangguk. Gegas Ernest meracik dua sendok kopi dan sepucuk sendok gula. Air panas yang baru dijerang dituangkan ke dalam gelas seketika menguarkan aroma sedap. Dul Karim menghirup aroma kopi yang merangsek ke dalam rongga hidungnya. Sejenak ia dapat melupakan kegelisahannya. Kegelisahan yang ia rasakan usai mendapati kenyataan keadaan desanya yang karut-marut.

Ia mendongakkan kepala. Sang gagak masih bersetia di atas dahan akasia. Sesekali terbang berkitar-kitar, dan kembali ke tempat semula. Dul Karim merasa pergerakan gagak sedang memberinya isyarat. Namun, ia tak cukup lihai menerka-nerka sebuah isyarat.

“Kalau sudah seperti ini, apalagi yang kau harapkan? Limestone is like bone and water is blood,” ucap Ernest yang kontan membuat Dul Karim terlonjak kaget.

Dul Karim melipat dahi membentuk tiga garis vertikal. Memahami lawan bicaranya telah memberi sinyal atas ketidakmengertiannya, Ernest lekas-lekas menjelaskan dengan isyarat. “Itu batu,” lanjutnya sembari menunjuk rekahan batu kapur. “Batu sama dengan tulang, dan air adalah darah. Kalau kedua-duanya rusak, rusaklah badan kita sebagai manusia, yeah,” tukasnya dengan tersendat-sendat.

Air muka Dul Karim beringsut murung. Sorot matanya menyiratkan kekhawatiran. Deru truk pengangkut batu kapur masih berdentum di tengah senyap antara Dul Karim dan Ernest. Keduanya masih dalam pikiran masing-masing.

Ia sejenak termangu. Obrolan tidak berlanjut. Ia tak hendak mendebat Londo itu, karena Dul Karim sendiri pun tahu, selantang apa pun ia mengelak, tidak dapat mengembalikan apa yang telah raib.

Kepak burung gagak itu tiba-tiba menyentak kesadaran Dul Karim. Ia bersicepat menghambur ke pelataran, dekat pohon akasia. Ia melihat gagak itu gelisah. Terbang rendah, berputar-putar, dan terkadang diam. Kemudian, gelisah lagi. Seperti sebuah isyarat agar Dul Karim mengikuti jejaknya. Belum tandas kopi yang dihidangkan padanya, Dul Karim gegas meraih sepeda dan mengayuhnya.

Terbang gagak itu membawa Dul Karim menembus belukar. Bebatuan kapur yang tajam pula runcing berkali-kali menggores telapak kakinya. Gagak itu membawanya menaiki gunung. Perjalanan kurang dari tiga jam, tetapi medan penuh mara bahaya. Mungkin saja, gagak itu hendak pulang ke hutan lebat di puncak Suroloyo yang selama ini memberinya kebebasan: alam tanpa tepi, udara segar, dan tentu saja ulat dan belalang di balik rerumputan. Sangar koak gagak terus menuntunnya mencapai puncak.

Dul Karim mengayuh sepedanya kuat-kuat. Memecah kesunyian. Menyisir kekalutan di sepanjang setapak menuju puncak gunung. Jurang curam membentang. Selarik aliran air tertangkap ujung matanya.

Napasnya hampir habis. Sebotol air putih langsung tandas begitu saja. Dihunusnya tatapan pada setiap sisi. Ia terpana, matanya terkejap-kejap, dan mulutnya menganga. Tiada gelap gulita seperti dulu ketika ikut bapaknya mengejar maling sapi yang kabur ke arah gunung. Tersisa onggokan pohon-pohon jati yang telah roboh. Pandangannya memusat pada celah galian. Area pertambangan tidak hanya terjadi di lereng pegunungan, tetapi sudah hampir membelah gunung.

Gunung itu diyakini memiliki jiwa. Ia akan permai menghadapi jiwa-raga yang suci, tetapi tidak akan membiarkan niat buruk selamat dari jeratannya. Sejenak suara bapaknya berkelebat dalam ingatan Dul Karim.

Burung gagak itu, masih burung yang sama dengan bulu sehitam sulang, di pesakitan dahan jati yang telah tumbang, berkoak-koak mencari peradilan. Gagak itu tidak lari, hanya bersembunyi dari rupa-rupa manusia dengan raut keruh sempurna. Ia hendak menggugat: sungai-sungai yang telah jadi kota, hutan-hutan yang sering membara, dan tambang-tambangnya bekas nyanyian duka. Lagi, kawanan burung itu menyenandungkan seloka yang tinggal harapan: kini ibu sedang lara, merintih, dan berdoa.

ilustrasi:pxhere.

Tinggalkan Balasan