Tanpa menoleh, dari bahasanya sudah terbaca pasti suara Ernest si Londo kesasar itu. “Kata Simbah, Wong Jawa aja lali jawane,” lanjut Ernest seakan-akan mengingkari lidahnya.
Dia berbicara dalam Bahasa Jawa dengan logat Melayu dan beraksen British: asing. Dul Karim menyebutnya ‘Londo’ walau kenyataannya Ernest bukanlah berasal dari Belanda seperti yang dipahami warga, tetapi kelahiran Inggris yang kebetulan pernah mencari peruntungan di negeri seberang: Malaysia.

Kegelisahan Dul Karim makin bercabang-cabang. Bukan, bukan takut segala wujud dedemit yang konon menghuni Gunung Suroloyo, atau alangkah mengerikannya melihat kawanan burung gagak yang berkoak-koak sepanjang hari mengawaninya bekerja. Namun, bagaimana jika mereka benar-benar murka, menuntut keadilan, dan memintai pertanggungjawaban?
Percaya tidak percaya, Gunung Suroloyo berpenghuni lelembut yang senantiasa menjaga warga desa dari bala. Pernah suatu kali seorang maling sapi tiba-tiba tidak bisa melihat jalan usai melintasi Gunung Suroloyo. Kontan ia tertangkap sebab tak bisa melarikan diri.
“Dengan gunung itu, keamanan desa kita terjamin sejak dulu. Banyak orang luar yang tidak berani macam-macam!” Demikian cerita Bapak Dul Karim ketika ia masih kecil.
Sebongkah batu besar merah membara. Apinya yang beringas membakar langit. Bongkahan lain merobohkan rumah-rumah di lereng gunung, lalu melemparkannya ke udara. Bayangan menyeramkan itu sejatinya hanya lahir dari rahim cerita Dul Karim semasa kecilnya. Namun, apa jadinya jika bapak Dul Karim mengetahui kondisi Gunung Suroloyo tak lagi permai seperti dahulu? Dul Karim menelan ludah, pahit sekali.
***
Raungan truk melewati jalanan berbatu pula licin, berdegam-degam seolah kiamat hendak datang lebih awal. Dul Karim kembali menjentik abu yang menutupi bara di ujung rokoknya. Lalu, lintingan keretek yang tinggal seujung jari itu diisapnya dalam-dalam. Bak-bak truk itu sudah menantinya, seolah tak pernah merasa cukup walau selalu diisi setiap hari.
“Hanya dari menambanglah dapur bisa mengebul saban pagi! Tak mungkin mengandalkan hasil tani yang tidak seberapa itu,” ujar Dul Karim mencoba membela diri setelah beberapa saat. Ia merasa disudutkan. Bagaimana mungkin seorang pribumi malah dinasihati perihal kelaziman adab masyarakat Jawa oleh orang dari negeri yang senantiasa mengedepankan logika macam Ernest.
Walau telah berpindah kewarganegaraan, Ernest tetaplah hanya seorang pendatang. Kalau bukan Nurul mantan TKW sepuluh tahun itu yang memboyongnya usai menikah di negeri Jiran, manalah mungkin Ernest berkehendak datang jauh-jauh ke pedalaman yang masih terbelakang hanya untuk melihat lereng Suroloyo yang kian hari makin tergerus longsor karena ulah tangan-tangan jahil.
Namun, ia juga tidak dapat mengingkari bila akhir-akhir ini udara makin panas. Pagi tidak semestinya memberikan panas yang menyengat, tetapi lereng Suroloyo memang telah dipeluk udara yang membara sejak petambangan kapur dilakukan membabi buta. Tidak lain dan tidak bukan sebabnya adalah jati dan mahoni turut ditebang untuk mengeruk harta karun di bawahnya.
Pada pemikirannya yang lugu, Dul Karim tidak pernah mengira kapan petaka akan terjadi. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya dapur istrinya tetap mengepul. Pun, bocah berusia setahun anak keduanya itu tidak sekadar dikasih air tajin untuk menggantikan susu formula yang harganya setara satu sak biji jagung kering.
“Juragan bilang, tambang ini sudah legal. Ada tanda tangan kepala desa juga kok.” Dul Karim kembali berkilah. Walau sesungguhnya, ia juga tidak percaya tambang itu bersih dari praktik kongkalikong juragan dengan perangkat desa dan dinas terkait demi mendapat tanda tangan dan stempel perizinan.
Akhir Desember sengkarut di desanya dilahirkan bertubi-tubi. Air sumur lebih dulu mengering padahal kemarau baru saja bertandang. Udara dua kali lipat lebih panas dari biasanya. Betapa penyesalan turut bertalu-talu menghujam dada warga yang telah kehilangan mata pencaharian. Diperumit dengan sisa tabungan yang kian menipis karena tidak bisa mengelola uang dengan baik. Lereng Suroloyo yang loh jinawi mendadak jadi desa melarat.
Ihwal gambaran masa depan yang cerah, jumlah uang yang nol-nya berderet-deret, jaminan kehidupan sejahtera yang sudah jelas membayang di depan mata, semua tinggal penyesalan. Begitu banyak hal terjadi di luar rencana. Iming-iming uang segudang telah merusak nalar orang-orang yang semula hanya mengerti cangkul dan arit, lantas berambisi hidup sejahtera bak orang kaya. Padahal, sedikit banyak karut-marut di desanya juga berasal dari nafsu pribadi.
Dul Karim tahu, almarhum bapaknya acap menasihati sama persis seperti ucapan Ernest ketika baru tiba beberapa saat lalu: orang Jawa jangan lupa jawanya, begitu kira-kira maksudnya. Etika luhur masyarakat Jawa yang terkenal akan tata kramanya tidak hanya perihal menjaga perangai terhadap sesama manusia, tetapi juga mengistiadatkan adab adiluhung untuk menjalin hubungan dengan alam.
