Sepintas Gegar Budaya dan Ihwal Kecanggungan Berbahasa

Teori gegar budaya sendiri pertama kali dicetuskan pada tahun 1959 oleh Edward T. Hall, seorang Antropolog Amerika, dalam bukunya The Silent Language sebagai sebuah gangguan pada semua hal yang biasa dihadapi di tempat asal menjadi sangat berbeda dengan hal yang dihadapi di tempat baru dan asing.

Di dalam buku tersebut, Hall mengatakan bahwa setiap yang dilakukan oleh makhluk hidup di muka bumi ini pasti mengalami tahapan kehidupan yang pasti akan dilewatinya, yang berbeda dari satu tempat dengan tempat lainnya, tidak terkecuali dengan fenomena gegar budaya yang dialami oleh setiap individu. Setiap orang akan mengalami kebingungan saat pertama kali berpindah dari daerah satu ke daerah lainnya. Kemudian ia mengalami beragam perbedaan signifikan dengan daerah asalnya. Hall menjabarkan  secara singkat tahapan tersebut dalam empat proses:

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertama, tahap bulan madu, fase ini ditandai dengan perasaan bahagia saat di mana seseorang tiba di sebuah lokasi atau tempat baru. Ia membayangkan, bahwa tempat barunya akan memberikan pengalaman dan hal-hal yang menyenangkan. Dalam hal ini, kita bisa mengambil contoh seorang mahasiswa dari dusun antah berantah yang bersemangat menempuh pendidikan tinggi di Ibukota. Dengan penuh sukacita ia menata kamar kosnya, membeli perabotan baru, dan membayangkan ruang kelas yang menyenangkan.

Kedua, tahap krisis, yakni munculnya perasaan tidak berdaya karena perbedaan signifikan dengan daerah asalnya. Perbedaan latar belakang bahasa, tradisi, sosial, dan faktor lainnya yang dirasakan si mahasiswa baru menjadi alasan munculnya ketidaknyamanan tersebut. Namun, hal ini biasanya tidak berlangsung lama, tergantung kemampuan si mahasiswa untuk segera mengatasinya melalui penyesuaian diri yang baik. Asal tidak cerewet dan bersikap terbuka, fase ini akan mudah ia lalui.

Ketiga, tahap penyesuaian, si mahasiswa baru mulai membangun interaksi positif dengan lingkungan barunya. Ia sudah mulai pandai berbaur, terbiasa dengan budaya baru, serta fasih menggunakan bahasa setempat. Ia juga sudah pandai menyikapi perbedaan di lingkungannya. Fase ini merupakan hal terpenting dan menjadi penentu baginya untuk menghadapi tahun-tahun yang akan ia lewati setelahnya.

Keempat, tahap dwikebudayaan, fase terakhir di mana si mahasiswa merasa nyaman dengan kedua budaya dan bahasa yang dimilikinya. Hal ini menunjukkan keberhasilannya melewati tantangan adaptasi. Namun sayangnya, ada pula sebagian mereka yang terlalu mengagungkan budaya dan bahasa asing sehingga merasa menjadi ‘orang baru’ ketika kembali ke kampung halamannya.

Imigran Amerika di Brazil

Teori Gegar Budaya yang dilahirkan Hall ini, setahun kemudian, semakin diperkuat dengan penelitian lapangan yang dilakukan oleh Kalervo Oberg, seorang antropolog dan ahli etika asal Kanada, dengan menggambarkan respons perasaan stres atau kecemasan serta adanya ketidakmampuan yang dialami oleh individu dalam lingkungan barunya, yang mana ketidakmampuan tersebut terjadi pada kognitif, sehingga menyebabkan gangguan pada identitas.

Tinggalkan Balasan