Sepintas Gegar Budaya dan Ihwal Kecanggungan Berbahasa

Penelitian terkenal Kalervo Oberg yang mengharumkan namanya sebagai Antropolog adalah penelitian mengenai fenomena gegar budaya yang dialami oleh imigran Amerika yang bekerja sebagai teknisi di Rio, Brazil. Di mana para imigran baru ini belum pernah sama sekali memiliki pengalaman tinggal di luar negeri sebelumnya. Dengan ketekunannya yang penuh kesabaran, Oberg mencatat adanya pola umum dalam sindrom gegar budaya yang dialami oleh imigran tersebut.

Penelitian itu terangkum kurang lebih begini: pada awalnya, para imigran tersebut merasa senang ketika diberi tugas di negara Brazil. Namun, rupanya kesenangan itu tidak berlangsung lama, mereka mengalami transisi cepat menuju fase depresi. Mereka cenderung merasa kecewa, sering memberikan kritik yang keras terhadap budaya Brazil, dan mulai memiliki kesadaran akan masalah kesehatan. Mereka melihat bahwa orang-orang Brazil meiliki gaya hidup serampangan, tidak sehat. Oberg mengamati fenomena ini secara informal dengan mendiskusikannya bersama istri-istri imigran Amerika dalam suatu klub di Rio de Janeiro.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Penelitian yang dilakukan oleh Oberg di atas setidaknya menjelaskan aspek lain gegar budaya, di antaranya; (1) Adanya ketegangan karena upaya untuk beradaptasi secara psikologis, (2) Rasa kehilangan terhadap teman, status, profesi, dan harta. (3) Ditolak atau menolak anggota budaya baru, (4) Kebingungan dalam peran, harapan dan nilai. (5) Cemas hingaa jijik dan marah saat menyadari adanya perbedaan budaya, (6) Adanya perasaan tidak berdaya karena kurang atau bahkan tidak mampu dalam mengatasi lingkungan baru.

Gegar Kebudayaan, Sebuah Keniscayaan

Walhasil, dari uraian singkat di atas, dapat dipahami bahwa gegar budaya merupakan hal yang lazim dirasakan  dan dialami oleh siapa pun. Dengan berpikiran terbuka dalam menerima perbedaan, membuka diri seluas-luasnya terhadap pengalaman baru, serta memperbanyak sosialisasi, akan memudahkan kita untuk beradaptasi dan merasa nyaman dengan lingkungan baru.

Penyesuaian ini, tentu bisa diawali dengan cara kita berbahasa. Bahasa, merupakan senjata utama untuk dapat terhubung kepada manusia lain secara langsung. Sehingga kita tidak perlu kaget, jika di ibukota dan sekitarnya, mendengar “elu-gue” diucapkan dengan dialek medok ala jawa atau mengayun seperti logat melayu. Sebab, mereka berupaya untuk dapat menjadi bagian ‘dunia baru’ yang sedang mereka jalani.

Sumber Bacaan:

Edward. T. Hall (1959). The Silent Language. New York: Doubleday.

Tinggalkan Balasan