Ustaz Komar terkesiap. Ia semakin penasaran dan mendobrak pintu. Sebentar saja pintu tua itu oleng hampir ambruk, hendak menimpa tubuh Hasan, untung saja sempat ditangkap oleh Ustaz Komar. Ia kaget melihat kondisi anak itu dalam keadaan sekarat. Bibirnya biru, tubuhnya pucat dan panas. Hasan terkulai lemah. Ustaz Komar langsung meminta bantuan warga untuk segera membawanya ke rumah sakit.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Hasan ditemani Ustaz Komar. Ia terlihat lebih bertenaga karena dipasangkan infus. Pamannya, Pak Mahmud, meminta maaf dan menyesal karena mengabaikan keponakannya tersebut. Hasan tidak mempermasalahkan itu, bahkan Ustaz Komar memberi nasihat untuk Pak Mahmud agar tidak mengulangi hal yang sama. Sesibuk apa pun, mereka harus tetap saling peduli. Pak Mahmud hanya termangut-mangut.

Hasan di rawat di rumah sakit besar. Ia terkena tifes dan harus dirawat beberapa hari. Semua biaya akan ditanggung oleh Pak Mahmud selaku pamannya.
“Paman minta maaf, Le. Kamu dua hari tidak keluar rumah, paman kira kamu ikut bibimu yang ada di kota.”
“Tidak apa-apa, Paman. Hasan juga minta maaf merepotkan Paman.”
“Jangan begitu, mulai sekarang kamu harus tinggal sama paman saja ya.”
“Enggak Paman, Hasan sendiri saja. Nanti merepotkan bibi dan Paman.”
“Jangan begitu, kamu tidak punya siapa-siapa lagi, sekolahmu juga akan paman biayai.”
Mata Hasan berkaca-kaca. Ia sangat berterima kasih atas kebaikan Pak Mahmud padanya. Tapi apakah benar itu ketulusan, ia tiba-tiba saja meragukannya.
Sepulang dari rumah sakit, Hasan tinggal bersama Pak Mahmud. Ia juga akan melanjutkan sekolahnya yang tertinggal satu tahun. Pada suatu pagi, Hasan melihat bekas kawah yang dimasak warga untuk membuat bubur asyura. Ia meneteskan air mata setiap kali teringat kejadian tahun lalu. Ibunya meninggal karena sakit dan tidak memiliki uang untuk berobat. Bahkan pada hari itu warga juga sedang memasak bubur. Sang ibu ingin sekali memakan bubur asyura tersebut, tapi sayangnya persediaan telah habis. Setelah Hasan kembali, ibunya telah tiada. Sebuah genggaman kekar seorang lelaki menyentuh pundak Hasan tiba-tiba, membuat ia terperanjat.
“Kamu kenapa menangis?” tanya Pak Mahmud.
“Paman, bolehkan aku makan bubur asyura, beberapa minggu lalu Hasan tidak sempat menikmatinya, karena sakit.”
