Sepiring Bubur Asyura dari Hasan

“Oh tentu, biar bibimu buatkan, sebentar ya.”

“Tidak perlu, Paman, biar Hasan yang buat.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hasan membuat bubur asyura dalam porsi cukup banyak. Ia dengan lihai meracik bumbu. Ilmu dari ibunya tetap ia ingat, bahkan ketika ibu Hasan hidup, biasanya menjadi pemasak utama bubur asyura di kampung adalah ibunya. Karena ibunya tidak ada, maka jadilah Istri Pak Mahmud sebagai pembuat bumbu utama tahun ini.

Selesai memasak bubur, Hasan mengundang beberapa tetangga terdekat dan Ustaz Komar untuk membacakan doa. Hasan juga berterima kasih kepada Ustaz Komar karena telah menolongnya. Ustaz Komar dengan bangga memuji masakan Hasan, bahkan beberapa tetangga tiba-tiba saja menyebut-nyebut ibu Hasan dan rindu masakannya.

“Bakat ibumu ada di dirimu Hasan. Ustaz bangga padamu.”

Pak Mahmud dan istrinya terlihat tidak senang. Ia sesekali nimbrung kepada para tetangga yang memuji masakan Hasan, bahwa ia juga yang menyiapkan bumbu. Tentu saja tetangga lebih percaya Hasan.

Karena bakat yang dimiliki Hasan, Ustaz Komar akan mendirikan rumah makan bubur asyura dan Hasan dipinta untuk menjadi kokinya, bahkan ia ditawari untuk tinggal di rumah Ustaz Komar. Dengan senang hati ia menerima tawaran itu. Hasan akhirnya pindah ke rumah Ustaz Komar. Mengenai biaya sekolahnya Hasan mendapat keringanan karena ia yatim piatu.

Hasan senang ia bisa bebas dari rumah pamannya tersebut. Ia tahu rencana busuk Pak Mahmud dan istrinya, karena iri terhadap ibunya yang memang selalu digunakan untuk acara-acara, sebagai pemasak utama, bahkan disewa sana-sini. Bahkan di saat ibunya sakit, pamannya tersebut sengaja tidak memberitahu warga dan membiarkan Hasan sendirian, hingga menjelang ibunya meninggal pun dan ingin memakan bubur asyura mereka tidak peduli. Katanya habis ternyata disimpan. Bahkan Hasan diberi nasi basi oleh Pak Mahmud yang menyebabkan ia sakit tifes.

Hasan tahu bahwa ia tidak diperlakukan tulus oleh paman dan bibinya. Sikap baik mereka hanya ingin menarik simpatik warga. Karena itulah Hasan memilih untuk tinggal bersama Ustaz Komar dan bekerja di sana. Semakin hari warung itu juga semakin ramai oleh pembeli karena bubur asyura Hasan yang terkenal lezat.

Meski disia-siakan oleh paman dan bibinya, Hasan tidak pernah dendam, ia tetap baik. Bahkan di saat ia tinggal di rumah Pak Mahmud, Hasan mendengar rencana istri dan pamannya itu untuk menambahkan obat diare ke dalam bubur Hasan yang ia buat waktu itu. Untung saja mereka tidak sempat melakukannya, sebab Hasan terlebih dahulu membuang sebuk itu ke tong sampah, sedikit lagi nama baiknya tercemar. Tapi Tuhan begitu baik dan memberikan petunjuk sebelum semuanya terjadi. Oleh sebab itulah Hasan sangat senang tinggal di rumah Ustaz Komar yang baik hati dan tulus. Ia juga sering berkunjung ke rumah pamannya sambil membawakan bubur buatannya, terserah mau dimakan apa tidak. Bagi Hasan, Pak Mahmud dan istrinya itu tetaplah keluarganya.

Riau, 2022.

Tinggalkan Balasan