Pada mulanya, misi The Kwan Lie untuk mendakwahkan Islam di daerah ini menumui banyak kendala, bahkan sempat memperoleh perlakuan tak bersahabat dari masyarakat lokal. Akhirnya, untuk memuluskan jalan dakwahnya, The Kwan Lie melakukan kegiatan niaga sekaligus membuka pengobatan China yang memang menjadi keahliannya. Dengan menjadi tabib atau ahli pengobatan China, lambat laun kehadiran The Kwan Lie mulai diterima oleh masyarakat lokal, dan dakwanya mulai membuahkan hasil.
Berkat dakwah The Kwan Lie, di daerah Bali utara ini Islam berkembang cukup baik di tengah-tengah masyarakat penganut Hindu. Hingga kini, di Kota Singaraja atau Kabupaten Buleleng banyak desa atau kampung Islam, warganya mayoritas beragama Islam. Desa Pegayaman, misalnya, merupakan perwujudan asimilasi kebudayaan antara Hindu dan Islam. Nama-nama Bali bercampur dengan nama-nama Islam. Ketut Syahruardi Abbas, misalnya, adalah contoh perpaduan nama Bali-Islam.

Itulah jejak perjuangan dakwah The Kwan Lie alias Syekh Abdul Qadir Muhammad. Saat ini, Makam Syekh Abdul Qadir Muhammad atau The Kwan Lie berada di Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Makam The Kwan Lie kini banyak diziarahi orang dari berbagai penjuru Tanah Air. Orang menyebutnya Makam Keramat Karang Rupit. Disebut demikian karena makam The Kwan Lie awalnya berada beberapa puluh meter dari pantai dalam keadaan terjepit karang dan mengambang di atas permukaan air laut. Tapi, seiring berlalunya waktu, makam ini bergeser ke tepi pantai berdekatan dengan Pura Agung Labuan Aji. Di sekeliling makam The Kwan Lie juga ada beberapa makam, yang diyakini merupakan makam dari para pengikutnya.
